Down to earth

Sahabat-sahabat pembaca yang budiman,
Ada sebuah ungkapan yang sering membuat kita seolah terbangun dari mimpi, down to earth!
Ungkapan tersebut, sering digunakan sebagai cara untuk menasehati sebuah pribadi yang tindakan-tindakannya atau perkataannya, tidak mampu dipahami dengan mudah atau memiliki jarak yang jauh antara kenyataan dengan harapan.  Bagaimana sebaiknya kita memposisikan diri, adalah pertanyaan yang sesungguhnya.
Diantara banyak pendekatan upaya untuk mengenali sebuah pribadi manusia, saya mengundang Anda untuk mencoba melihat eksistensi sebuah pribadi dalam tiga unsur utamanya, jasad, hati dan pikiran.  Kesatuan yang utuh atas ketiganya, disebut jiwa yang utuh.
Bumi tempat kaki berpijak
Yang Maha Pemurah, telah menjanjikan surga bagi jiwa-jiwa yang baik.  Tetapi mohon untuk cermat mengamati, bahwa jalan-jalan mencapainya, semuanya diletakkan di dunia ini..Di kehidupan yang fana dan sangat kecil ini.  Di hiruk pikuk aktivitas keduniaan yang diibaratkan seperti bangkai anak kambing yang telinganya cacat.
Hinanya kehidupan dunia tidak mengurangi urgensi perannya.  Untuk itu, bangunlah hormat yang baik pada kehidupan dunia ini.
Pribadi-pribadi terpilih langit telah meneladankan bentuk-bentuk sejati penghormatan itu.
Memuliakan Ibu tiga kali utama dari ayah, bersikap santun pada keluarga terdekat, membangun hormat pada senioritas, tidak membangunkan kucing yang tidur pulas di tempat sembahyangnya, berdagang dengan jujur, memutuskan dengan adil, mengutamakan kepentingan umum, taat pada perjanjian, menyantuni dan bersikap lembut pada orang yang menghinanya, menyingkirkan duri di jalan, tampil rapi dan bersih, berjalan gagah dan santun, memakai pakaian indah pada perayaan, mendahulukan terima kasih dan salam, memperbaiki pakaian yang robek, membantu istri menyiapkan makanan, panglima peperangan yang berani, mengendarai kuda dengan terampil, meramu siasat perang, menstrategikan gerakan politik, mendidik dengan telaten, seantiasa menjaga kebersihan gigi dan aktivitas duniawi lainnya, yang telah dicatatkan pada berjuta-juta lembar dokumen.
Kehidupan dunia adalah kehidupan fisik - sesuatu yang terlihat oleh kornea mata, sesuatu yang terdengar oleh gendang telinga, sesuatu yang teraba oleh syaraf kulit, sesuatu yang tercium oleh rongga hidung, sesuatu yang dikecap oleh sensori lidah.  Ruang dan waktu adalah wadahnya.  Maka strategikan dengan prima keseluruhan indera kita untuk penghormatan yang benar (haq) dan santun (diterima dengan tulus).  Karena dengan keprimaan berjiwa, kita akan diterima, disukai dan dipercaya oleh dunia ini, oleh sesama dan oleh hukum alam yang telah ditetapkan-Nya.  Penghormatan yang baik pada sesama menjamin kehidupan sosial yang damai dan produktif.  Penghormatan yang baik pada alam akan menghindarkan kita dari bencana alam.  Penghormatan yang baik pada dunia akan membangunkan jembatan menuju pintu gerbang keabadian yang penuh suka cita dan kemuliaan.
Langit tempat orientasi hati menggantung
Bahasa hati adalah bahasa ilahiah.  Tidak mudah untuk dikatakan namun mudah untuk dirasakan.  Melalui bahasa hati, Yang Maha Mengetahui memberitahukan. Hanya melalui pintu ini, turunnya ilham dan naiknya ikhlas.

Ikhlas adalah sarinya ketaatan dan sarinya kesyukuran.  Bukan besarnya nominal derma yang naik, melainkan sarinya ketaatan yang naik ke langit.  Bukan peluh dan manfaat dari pertolongan yang naik, melainkan sarinya ketaatan dan sarinya kesyukuran.  Yang naik melalui tali ini, hanya sari-sari kehidupan dunia yang baik.

Entah apa definisi tali yang menghubungkan antara langit dan hati.  Yang pasti, dinamika tebal-tipisnya sangat tergantung keyakinan.  Semakin tebal, semakin leluasa ilham dan ikhlas berlalu lintas.  Semakin tebal, semakin kuat kehidupan, semakin tipis semakin rentan kehidupan.  Sesuatu yang menggantung sangat ditentukan oleh ikatannya.  Namun pastikan pula, kita hanya menggantungkan diri pada Yang Maha Kuat.
Ketahuilah, bahwa hati Anda sangat luar biasa luas dan dalam-nya – apa pun pendapat Anda mengenainya; tetapi hanya penggunaan pikiran Anda lah yang menghasilkan kesimpulan salah mengenai ukuran hati Anda (Mario Teguh).  Maka pastikan Anda memenuhinya dengan harapan-harapan baik yang besar.

Ukuran kita hanya sebesar harapan kita.  Maka pastikan kita menempelkan ukuran kita di ujung tali yang satunya, besar dan mulia.  Dan sebesar-besarnya harapan adalah menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya kebaikan. 

Cakrawala mewadahi keluasan sudut pandang
Pendapat adalah kekuatan di atas kekuatan – karena pendapat menentukan bagaimana kekuatan itu digunakan (Mario Teguh).
Yang membatasi kita, bukanlah apa yang ada di sekeliling kita, melainkan pendapat kita.  Seorang yang berpendapat bahwa dirinya tidak bisa, akan benar 100 persen.  Karena dia akan menggunakan seluruh kekuatannya untuk menahan diri dari mencoba, daripada menggunakan seluruh kekuatannya untuk mengatasi kesulitannya.  Orang yang mengatakan dirinya ditakdirkan miskin, akan sangat kesulitan berupaya keras untuk keluar dari kemiskinannya.  Dia lebih cenderung dan melestarikan perilaku yang memiskinkannya.
Masih ingat dengan pepatah ‘katak dalam tempurung’?  Tempurung bagi kita adalah pendapat kita.
Pendapat kita adalah sudut pandang kita.  Karena tidak semua benda berbentuk bola, maka seseorang yang sedang berdiri tepat dibelakang benda, akan berpendapat bahwa bentuk benda sesuai dengan apa yang dlihatnya.  Sebuah prisma segiempat dikatakan bujur sangkar jika dilhat dari atas atau dari bawah.  Tetapi bagi yang berdiri di salah satu sampingnya, akan menyatakan sebagai sebuah segitiga.  Pengetahuan baru bentuk prisma lahir dari seseorang yang memandangnya dari atas, bawah dan samping.  Maka luaskan dan lengkapkan sudut pandang Anda.
Mohon Anda ingat, kesempitan sudut pandang sering melahirkan kebodohan yang fanatik. Sementara luasnya sudut pandang, mengundangkan kebijakan yang lembut.
Pikiran kita bisa jadi dipenuhi oleh pengetahuan-pengetahuan kita.  Tapi yang benar-benar membatasi adalah apa yang menjadi pendapat Anda, bukan yang Anda ketahui.  Bukankah banyak kita menyaksikan pribadi berpendidikan tinggi yang korup dan berkhianat, walau telah sangat jelas dan terang dalam pikirannya ada pengetahuan kejujuran itu kemuliaan yang dijamin oleh Kekuasaan-Nya.
Sahabat-sahabat pembaca yang rendah hati.
Saya menyampaikan terima kasih yang dalam atas kesediaan Anda, menjadikan kalimat-kalimat di atas sebagai sahabat bagi sudut pandang Anda selama ini.  Semoga dapat menemani kehidupan Anda yang sangat menggembirakan.

melayani adalah pekerjaan mulia

Sahabat-sahabat pembaca yang budiman,
Seperti halnya Anda, saya sering pula menyaksikan, demikian banyak saudara kita yang memilihkan bagi pribadinya yang mulia itu, sudut pandang tidak seimbang antara Melayani dan Dilayani.  Kemudian kesan yang dibangun pun, tidak cukup adil dalam meletakkan pada posisi yang sejatinya.
Tahukah kita semua, bahwa sesungguhnya yang paling mulia itu adalah pribadi-pribadi yang mengambil peran MELAYANI.
Bukankah para pemimpin yang adil dan ahli waris surga itu adalah para pelayan ummat?
Bukankah para Nabi dan Rasul mulia itu adalah para pelayan kaumnya?
Bukanlah Rasulullah Saw adalah pelayan Ummat Islam akhir zaman?
Bahkan Yang Maha Kuasa itu pun, Melayani makhluk-makhluk-Nya?
Pekerjaan melayani adalah pekerjaan mulia.
Berikut saya kutipkan beberapa buah pikir Pak Mario Teguh tentang pelayanan :
Kita semua menemukan kehebatan diri kita di dalam pelayanan kepada orang lain
Bila Anda telah berlaku jujur, bekerja keras, melayani kebutuhan orang lain sebagai cara memenuhi kebutuhan Anda dan keluarga, dan melakukannya dengan ikhlas sebagai pelayanan kepada kehidupan – Anda tidak mungkin tidak berbahagia.
Bila Anda dibutuhkan, Anda dibutuhkan oleh mereka yang kesulitan. Bila Anda dimuliakan, Anda dimuliakan karena pelayanan Anda.
Seorang khadimat (pembantu rumah tangga) yang tulus, melakukan pekerjaan-pekerjaan yang akan ditukarkannya dengan penghormatan yang baik serta sejumlah uang tertentu.  Dia tidak sedang melayani mereka yang membayarnya.  Yang dia sedang layani adalah perintah kekasihnya, Sang Khalik.  Dia tahu sekali bahwa pada pekerjaannya itu, tersembunyi keberkahan dari langit untuk anak-anaknya, untuk saudara-saudaranya, untuk orang tuanya dan untuk biaya masa depannya.  Sang khadimat, seperti pula halnya dengan kita yang manager atau direktur; bekerja bukan sebagai pelayanan bagi pemilik perusahaan, melainkan sebagai pelayanan bagi orang-orang yang membutuhkannya.  Dia dan kita, melayani kebaikan, melayani perintah Yang Maha Penyayang.  Melayani adalah kemuliaan, karena itu adalah perintah-Nya.  Atas pelayanan kita yang tulus bagi sesama dalam kehidupan ini, kita mendapatkan kemuliaan dan dicukupkan kebutuhan oleh Yang Maha Kaya dan Yang Maha Pemberi Rezeki.
Sahabat-sabahat alumni yang baik, kita semua adalah pelayan.
Dan melayani adalah pekerjaan yang mulia.