Sahabat-sahabat pembaca blog yang baik,
Saya seringkali tercenung dengan perilaku sebagian dari kita. Yaitu pribadi-pribadi yang demikian mudah bersumpah. Bahkan hanya untuk meyakinkan lawan bicaranya tentang gosip seputar selebritis, harus diselingi penekanan-penekanan bersumpah.
Sumpah bertujuan bukan untuk meyakinkan orang lain, tetapi untuk menghadirkan saksi.
Saat kita disumpah jabatan dengan mengucapkan Demi Allah, Demi Tuhan; sebenarnya kita tidak sedang meyakinkan pengambil sumpah jabatan atau pemirsa yang sedang menyaksikan pelantikan, melainkan melibatkan persaksian dari Yang Maha Menyaksikan akan kesungguhan, ketulusan dan rencana kita pada kebaikan.
Ada anjuran mulia dari langit, bahwa jika kita bersumpah, gunakan kalimat Wallahi, Tallahi dan lain-lain; yang maknanya adalah Demi Allah.
Karena kita menghadirkan Yang Maha Mulia sebagai saksi, maka pastikanlah mulia apa yang kita ucapkan, bertujuan mulia apa yang kita niatkan dan jalan mulia rencana yang kita akan jalani.
Karena kita menghadirkan Yang Maha Mengetahui sebagai saksi, maka pastikanlah kita tidak menyembunyikan sebutir biji dzarrah pun keburukan dalam ucapan lisan, bisikan nafsu, kecenderungan hati dan upaya tindakan.
Karena kita menghadirkan Yang Maha Agung dan Maha Besar sebagai saksi, pastikanlah kita tidak bersumpah untuk hal-hal yang remeh, sepele, sia-sia dan kepentingan sesaat. Maka sejajarkanlah kepantasan kepentingan sumpah dengan Yang Maha Tinggi.
Bila Anda benar - maka yakinlah
Sahabat-sahabat yang budiman, sesungguhnya, jika yang kita sampaikan adalah kebenaran, maka sikap apa pun dari lawan bicara atau pendengar, tidak lah penting. Karena tugas kita hanyalah menyampaikan kebenaran. Urusan mengenai tingkat keyakinan mereka pada kebenaran yang kita sampaikan bukan lagi hal yang penting. Hanya saja, cara kita menyampaikan harus santun dan tidak mengganggu rasa aman serta nyaman pihak lain. Bahkan bila reputasi akhlak baik kita telah mendahului, sebetulnya mereka sangat mudah meyakini kebenaran yang kita sampaikan.
Sebenarnya kita tidak perlu bersumpah, jika perilaku kita menjamin kebenaran perkataan kita.
Bahkan kita akan sangat khawatir, dengan orang yang banyak menyebut nama Tuhan dalam janji-janjinya. Dia sepertinya sadar sekali, bahwa kualitas dirinya tidak cukup baik untuk menopang kebenaran perkataannya.
Penerimaan mereka, memang mencerminkan kesan yang dipahami.
Seorang pelukis adalah yang melukis banyak lukisan. Seorang pembohong adalah yang berbohong berkali-kali. Seorang yang dikenal jujur adalah pribadi yang telah mencontohkan banyak kebenaran dalam hidupnya. Dan hanya yang jujur yang dipercaya serta di yakini kebenarannya.
Untuk itu, kita harus berhati-hati dengan kebiasaan kita mempermainkan kebenaran, karena kesan tentang kita dibentuk oleh kebiasaan kita yang dilihat oleh orang lain. Mohon diingat, kita tidak bisa menilai isi telur dengan praktis selain dari kondisi kulit telurnya.
Sahabat-sahabar pembaca blog yang baik,
Terima kasih atas kesediaan Anda menerima sudut pandang ini, sebagai salah satu yang melengkapkan sudut pandang yang telah hadir sebelumnya - dalam taman pikiran Anda.