Pekan ini, bisa jadi adalah pekan terbaik dalam kehidupan kita, dengan banyaknya rekan pembaca blog yang telah menguatkan kembali, tali silaturahim dengan kaum kerabat, sahabat dan sesama; serta luluhnya berbagai macam kesalahan melalui pintu maaf yang lestari dalam budaya yang sangat baik. Seiring kegembiraan yang mengharu biru, mohon perkenan rekan-rekan untuk menerima sebuah catatan kecil saya tentang maaf.
……
Seorang peminta maaf adalah seorang pemaaf yang tulus.
Dalam banyak kesempatan, kita sering mendengar ajakan untuk mudah meminta maaf bahkan sebelum diminta. Kita juga sering menemukan bahwa pada pribadi-pribadi mulia, meminta maaf itu dilakukan, terkadang jauh sebelum kesalahannya diketahui oleh pihak lain. Sesaat setelah dia menyadari kesalahannya, dia akan segera meminta maaf kepada stake-holder-nya. Dia tidak perlu menunggu adanya keluhan, komplain atau teguran terlebih dahulu. Karena jika hal itu terjadi, maka dapat berarti kesalahannya telah berdampak negatif dan bisa jadi sedang dalam proses membangun citra negatif tentang dirinya.
Bersegera minta maaf, selain memiliki manfaat preventif, juga sekaligus membangun citra positif tanggung jawab.
Jika permintaan maaf disampaikan mendahului disadarinya sebuah kesalahan, yang akan terbangun adalah rasa hormat.
Dalam persahabatan yang kita jalani, membuat kesalahan adalah keniscayaan yang tidak diinginkan atau sebaiknya tidak direncanakan. Tetapi jika kesalahan telah terjadi, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah meminta maaf. Bisa jadi, upaya cepat meminta maaf dapat menjadi bagian dari perbaikan itu sendiri; atau paling tidak dapat menyiapkan kondisi yang baik bagi tindakan perbaikan yang akan dilakukan.
Untuk dapat menjadi pribadi yang bersegera meminta maaf, sangat-lah diperlukan ketulusan – hati penyayang yang damai. Karena hanya peminta maaf yang tulus-lah, yang telah terlebih dahulu memaafkan pihak lain jika permohonan maafnya tidak diterima – bahkan sebelum permintaan maafnya diutarakan. Jadi, seorang peminta maaf adalah seorang pemaaf yang tulus, karena sebelum meminta maaf, dia telah terlebih dahulu memaafkan. Dengan itu, dia akan bahagia sebelum dan sesudah permintaan maaf itu disampaikan.
Memang tidak semua yang meminta maaf telah memiliki hati yang tulus; tapi dia yang sedang memastikan dirinya selalu belajar menjadi pribadi yang tulus, akan dapat menjadi pribadi yang tulus (keahlian dalam melakukan datang dari melakukan – Mario Teguh). Kemudian anjuran selanjutnya adalah memastikan ‘wajah’ minta maaf kita, terlihat santun, sehingga tidak mengundang kecurigaan. Karena kesantunan, selalu merupakan bagian terlunak dari kekuatan, yang paling mudah diterima semua orang.
Pengertian baik kita tentang pemaaf, sebaiknya tidak dikaburkan dengan banyaknya pribadi palsu yang menjadikan permintaan maaf sebagai penutupan atas kelemahan upaya atau tipuan termanis dari penghindaran tanggung jawab. Selalu ada mekanisme penyaringan yang efektif dalam setiap hati nurani insan, untuk dapat membedakan dengan baik, yang palsu dari yang asli.
Dearest pembaca blog yang budiman,
Saya senang sekali dengan pembelajaran terbaik dari pasangan hidup saya, yaitu terkuaknya pengertian baru tentang : peminta maaf adalah pemaaf yang tulus.
Terima kasih yang terdalam teruntuk wordpress.com, yang telah menjadi pemungkin bagi tersampaikannya tulisan sederhana ini ke khalayak pembaca blog yang budiman.