Kesantunan itu menaungi, apapun.
Kesantunan itu seperti awan, yang selalu dapat menaungi apa pun dibawahnya. Awan tidak mensyaratkan apapun bagi mereka yang ingin mendapatkan keteduhan dan pesonanya. Dia hanya menaungi dengan tulus. Sebuah pribadi yang santun, selalu dapat dengan mudah menerima perlakuan apapun dari yang dihadapinya, untuk kemudian membalasnya dengan sikap penuh kasih sayang. Bahkan seringkali, keteduhan itu melunakkan perangai yang keras, mendinginkan suasana yang memanas, memberikan kenyaman bagi mereka yang terbakar dan menjadi salah satu sumber kedamaian.
Kesantunan selalu indah, dilihat dari sisi manapun kita memandang.
Seperti halnya awan putih bersih yang selalu menjadi tanda indahnya hari, maka kesantunan merupakan keindahan yang sesungguhnya dari pribadi yang baik. Keindahan yang mengundangkan niat baik, sikap baik, harapan baik, prasangka baik, komunikasi yang baik dan jernih serta memberikan arah yang jelas bagi kesungguhan banyak pribadi yang ingin berubah. Telah beribu lukisan indah yang lahir dari pesona alam. Telah berjuta bait puisi digubahkan untuk dan atas nama keindahan. Telah beratus nama pribadi mulia diharumkan oleh perilaku santun.
Kesantunan dapat melembutkan bentuk kasar dari kekuatan yang besar.
Satu-satunya pelindung yang mampu menyaring kekuatan-kekuatan sangat besar dalam sebuah pribadi untuk kemudian tampil dalam bentuk terbaiknya – adalah kesantunan. Itu-lah sebabnya, sebuah pribadi yang sangat berwenang dapat mengambil sebuah keputusan yang sangat pahit dan tegas, dengan sangat ramah. Karena kesantunan tidak mengurangi kekuatan, melainkan hanya melembutkan bentuk kasarnya. Para pemimpin dengan kekuatan yang berbalut kesantunan, akan selalu mendapat tempat yang tinggi dan dicintai.
Kesantunan adalah penyempurna kebaikan.
Mario Teguh mensyaratkan adanya unsur kesantunan sebagai pasangan sisi yang niscaya bagi kejujuran, agar dapat mewakili sebuah nama : kebaikan. Demikian penting, karena kesantunan merupakan sisi terlunak kebaikan untuk dapat melebur kemudian menyatu dengan hati nurani manusia. Dalam pergaulan luas yang riuh, sebuah pribadi harus memiliki bagian-bagian yang lembut, lunak dan menyerap untuk dapat bertautan. Kesepahaman dalam pengertian sebagai bentuk terbaik dari pertautan hati manusia, hanya dapat terjadi ketika diawali dengan proses-proses persentuhan yang santun. Bahkan dua buah logam yang sangat keras, untuk dapat saling menyatu membentuk aloy, mensyaratkan bentuk-bentuk terlunaknya.
Kesantunan itu, mempesona, melarutkan dan mengalirkan