Sahabat pembaca blog yang baik hati,
Salah satu ke-naif-an manusia, adalah mudah teralihkan perhatiannya oleh sesuatu yang nampak secara fisik. Padahal, sesuatu yang tidak terlihat, belum tentu tidak penting. Hanya karena kita tidak dapat mengenalinya, tidak berarti tidak berguna.
Dalam contoh klasik, kita sering kali mengabaikan - dan bahkan hampir menganggapnya tiada, atas keberadaan oksigen di sekitar kita. Adalah sangat jarang - untuk menghormati ketidak-nihilan, sebuah pribadi yang demikian sadar akan peran vital oksigen bagi dirinya sehingga dia bersyukur cukup dengan senantiasa menyadarinya di setiap helaan nafas.
Pengabaian yang menyakitkan, terlebih datang dari para penikmat hasil pembakaran tembakau.
Pembaca blog yang budiman…..
Dalam kehidupan penuh paradox, manusia pada umumnya mencirikan sikap yang terkadang dapat dikesankan sangat angkuh. Banyak pribadi yang demikian tergoda untuk meraih keuntungan fisik terlihat dengan membiayakan keberuntungan tak terlihat. Banyak pribadi-pribadi yang mengabaikan perintah kebaikan dari Yang Maha Baik hanya untuk merasakan sensasi penikmatan a few fleeting moment. Demikian angkuhnya, sehingga dia tidak begitu mengindahkan siapa yang memerintahkan. Demikian angkuhnya, sehingga alasan logis tak terbantahkan yang datang berbondong-bondong itu, menguap begitu saja.
Sahabat-sahabat yang baik, berikut adalah kisah yang terjadi untuk dapat diambil pelajarannya
Sebuah perusahaan, mendapatkan jadwal kunjungan lapangan pejabat pemasaran sebuah bank nasional dalam rangka pemastian kondisi bisnis, terkait pengajuan tambahan modal kerja. Karena minimnya ruangan untuk menyimpan arsip-arsip bagian keuangan, dengan sangat mudah pimpinan perusahaan menjadikan ruang ibadah sebagai gudang tumpukan dokumen yang sarat debu. Bahkan sebuah ruang stok pelumas lebih penting dari ruang ibadah itu. Tidak ada penjelasan dan pemberitahuan pada pengguna ruang ibadah itu. Para pengguna itu hanya dapat tergagap ketika saat-saat mulia itu datang, ruangan suci dan mulia itu telah berubah menjadi gudang yang sesak dan kotor. Tidak ada penjelasan, apakah sementara ataukah selamanya. Tak ada penjelasan untuk sebuah solusi sementara sekali-pun. Tidak ada penjelasan apa pun.
Sahabat, ini bukan saatnya mencaci pemimpin itu. Ini saatnya melihat ke dalam, karena tindakan merupakan bentuk terlihat dari nilai yang hidup di dalam.
Kita memang sangat cenderung untuk begitu mudah meminggirkan Tuhan, saat ada benturan kepentingan. Mungkin karena Tuhan tidak terlihat langsung di mata dan tidak pernah memprotes langsung atas tindakan kita. Mungkin karena kita sangat yakin bahwa Beliau Yang Maha Pemaaf, akan menerima permohonan maaf palsu kita. Mungkin karena perhatian dan prioritas kita sangat mudah teralihkan oleh sesuatu yang kasat mata.
Kebaikan, kebenaran, keadilan, kasih sayang, kejujuran, kesantunan; adalah bentuk-bentuk terdekat keberadaan Yang Maha Ada. Tetapi begitu mudahnya, semua itu tersingkirkan dari prioritas pilihan-pilihan keputusan kita. Padahal seharusnya, semua representasi Yang Maha Hidup itu, diutamakan dan dipentingkan. Fakta kelangkaan yang hidup dalam perilaku kita adalah ciri tak terelakkan dari keterpinggirannya. Berapakah persentasi pribadi jujur, pribadi santun, pribadi penuh kasih-sayang, dibandingkan jumlah pribadi yang masih bernafas saat ini?
Kita - manusia, memang memiliki kecenderungan yang naif; mendahulukan bayangan dari hakikat. Dan pihak yang paling mudah dipinggirkan adalah kepentingan Yang Maha Kuasa.