Sudut pandang nyamuk

Menilai orang lain adalah keniscayaan. Setiap saat, serta untuk berbagai kepentingan, kita selalu menilai orang. Larangan atau himbauan untuk tidak menilai orang lain, selain tidak berguna, juga melepaskan diri dari keniscayaan kehidupan. Mungkin yang seharusnya kita hindari adalah merendahkan orang lain. Dan seperti dengan mudah kita amati, menilai tidak sama dengan merendahkan. Menyampaikan hasil penilaian buruk atas sebuah pribadi dengan santun dan penuh kasih sayang, bisa jadi merupakan sebaik-baiknya nasihat.

Kita memilih telur dari kulitnya; seperti kita memilih orang – dari yang bisa kita saksikan. Maka berhati-hatilah dengan penampilan Anda. Dunia ini tidak memiliki cara lain yang lebih cepat dalam membangun penilaian terhadap dan mengenai Anda, kecuali melalui yang dapat mereka lihat dari luar (Mario Teguh).

….

Tiga hari terakhir ini, saya pulang-pergi kerja menggunakan jasa angkutan umum. Ternyata begitu banyak pelajaran selama 3 x 2 x 120 menit perjalanan menempuh jarak 3 x 2 x 35 km. Salah satunya, saya kisahkan untuk kita semua, berikut ini.

Dalam pergaulan di jalan, saya menyaksikan dari jarak yang dekat, ada sebuah pribadi dengan gambaran seperti ini. Mukanya lusuh, kuyu dan kotor; hampir tidak berhenti menghisap rokok di tengah kepengapan metro mini; badannya bau; pakaiannya kotor dan merupakan seragam tidur; jari tangan kanannya kerempeng (seperti pernah terkena lepra); bicaranya kasar merendahkan orang lain; umpatannya hina dan kotor; menerobos lampu merah; memotong jalur kendaraan lain seenaknya; memakai sendal jepit; mukanya (maaf) jelek; rambutnya kotor; kumisnya panjang tidak teratur; membuang gelas plastik bekas minumnya di jalan raya; meludah di ruang kemudi; menghardik polisi. Dia adalah seorang supir metro mini.

Saya telah meminta beberapa kawan dekat untuk menilai pribadi ini, sisi baik apa yang dapat dinisbahkan kepada supir malang ini? Dari 4 orang kawan yang diminta pendapatnya, tidak ada yang mampu mengungkapkan sudut pandang sisi baik dari sang supir! Saya dan juga kawan-kawan merasa bahwa ongkos Rp. 3000 yang dibayarkan, telah membayar lunas peran dia mengantarkan kami ke tempat tujuan. Yang tersisa hanyalah rasa penyesalan, mengapa ‘apes’ naik metromini yang dikemudikan dia?
Mengapa ada sebuah pribadi yang sangat tidak menghormati (apatah mensyukuri) dirinya sendiri serta orang lain?

……

Sebenarnya, kita memiliki teknik sudut pandang yang mumpuni, untuk melihat sisi baik sesuatu yang buruk. Keyakinan pada wahyu bahwa tidak ada yang diciptakan sia-sia (sepenuhnya buruk), adalah latar belakangnya. Teknik ini populer dikenal sebagai sudut pandang nyamuk!
Dalam kegelisahan atas serangan nyamuk, kita senantiasa dapat melihat sisi baiknya yaitu : sangat banyak pribadi yang hajat hidupnya bergantung pada industri pengusir dan pembunuh nyamuk (teknik bakar, teknik semprot, teknik fogging, lotion, teknik penguapan elektrik dll). Belum lagi jaringan distrbusi dan penjualannya, penanganan sakit akibat nyamuk (poliklinik, rumah sakit dll) dan pemimpin atau lembaga yang menangani bidang kesehatan masyarakat.
Dengan teknik sudut pandang nyamuk ini, saya berhasil menemukan sisi baik sang supir. Eureka!

……

Sebuah koin pasti terdiri dari dua sisi. Menghilangkan salah satunya berarti pula menghilangkan koin tersebut. Seperti malam dan siang, meniadakan malam harus dengan menambahkan sebuah matahari yang sama pada posisi yang berseberangan. Dan bagi manusia, ini adalah hal yang mustahil – tidak mungkin. Meniadakan matahari, jauh lebih musykil karena akan membunuh kehidupan itu sendiri.

Jika kita, Anda dan saya, telah memilih kebaikan sebagai pilihan sisi kehidupan; maka siapakah yang telah berkenan memilih sisi kehidupan pasangannya, yaitu keburukan? Benar sekali! Sang supir beserta rekan-rekannya!
Memang tidak logis pilihan mereka, jika yang dipakai adalah sudut pandang kita. Mungkin pula, mereka memandang pilihan-pilihan kita tidak logis pula. Who knows!

Sekarang kita menemukan alasan yang paling hakiki, mengapa kita harus tetap hormat dan berkasih sayang kepada supir metromini dan rekan-rekannya itu. Karena tanpa mereka, kita tidak ada. Tanpa keburukan, kebaikan tidak ada. Tanpa pengikut keburukan, tidak ada pengikut kebaikan. Tanpa kualitas hina, tidak akan pernah ada kualitas mulia.
Jika keberadaan (eksistensi) manusia adalah rahmat terbesar dari Allah Swt, maka keberadaan mereka pada sisi keburukan adalah hal terbaik yang mereka sumbangkan bagi kita pada sisi kebaikan.

Untuk itu, saya mengundang diri saya dan Anda untuk :
Memberikan hormat terbaik kita pada mereka.
Senantiasa berkasih sayang pada mereka.
Menaruh harapan baik, bahwa siapa tahu mereka (atau keturunannya) akan merubah pilihannya
Memohonkan pada Allah Swt, semoga mereka mendapat petunjuk.
Senantiasa berupaya keras untuk tidak mengikuti pilihan-pilihan buruk mereka.

Engkau akan bersama yang engkau cintai

Engkau akan bersama yang engkau cintai (Muhammad dalam buku Shahih Muslim)
 
Sahabat-sahabat pembaca blog yang budiman,
 
Saya tidak memiliki kemampuan dan keilmuan untuk men-syarah wahyu di atas, yang dilisankan oleh manusia paling suci dan paling mulia akhlaknya.  Apa yang saya kemukakan ini, hanya berdasarkan kecemburuan.
 
Mencintai dengan tulus, adalah pilihan manusia merdeka.  Tidak ada di dunia ini sebuah tekanan dalam bentuk apa pun untuk dapat membuat seseorang mencintai sesuatu.  Mencintai adalah pilihan, bukan kewajiban apatah lagi paksaan.  Manusia bahkan diberikan kebebasan untuk tidak mencintai Sang Penciptanya!
Bukankah sangat banyak manusia yang diguncang gempa, dihanyutkan banjir, didekatkan dengan maut, digerogoti penyakit, dipapa-kan dengan kemiskinan, dibangkrutkan ekonominya, dipisahkan keluarganya, diancam siksa neraka terpedih, ditawarkan kenikmatan surga yang terindah; tidak juga mengalihkan obyek cintanya.
 
Sahabat, mohon untuk diperhatikan, pilihan siapa atau apa yang kita cintai menunjukkan siapa kita sebenarnya.  Mereka yang memilihkan untuk dirinya cinta pada kebenaran, adalah pribadi mulia. Mereka yang memilihkan untuk dirinya cinta pada keburukan, adalah pribadi buruk.  Untuk itu, saya menawarkan daftar prioritas pilihan yang baik dan ringkas untuk dicintai : Allah Swt, Muhammad Saw, diri sendiri dan keluarga (istri/suami, anak, orang tua).
 
Saya sangat berbahagia sekali jika Anda memiliki kesamaan pilihan dengan saya.  Bukankah atas dasar wahyu di atas, maka keindahan, kebahagiaan, kenikmatan paling sempurna akan terwujud jika pilihan mencinta kita jatuh pada : Allah Swt, Muhammad Saw, diri sendiri dan keluarga.
 
……..
 
Semua kesungguhan melahirkan bukti, apa yang cintamu lahirkan…
 
Jika kita sungguh-sungguh menginginkan keberhasilan, akan sungguh-sungguh mengupayakan, sehingga pencapaian keberhasilan menjadi logis menjadi haknya.  Khusus untuk cinta, tidak diperlukan lagi kata penguat sungguh-sungguh, karena pada mencinta ada kesungguhan yang besar dan kuat.  Jika cinta tidak kuat dan tidak besar, maka tidak berhak dinamakan cinta; melainkan hanya suka.
 
Kisah cinta telah menginspirasi jutaan sastrawan untuk menulis jutaan karya sastra yang indah dan fenomenal.  Walau disinyalir hanya rekaan, kisah cinta Romeo – Juliet tetap memesona setiap dipentaskan. Kisah nyata cinta sejati yang agung antara Muhammad Saw - Khadijah, menyajikan episode surga di ranah fana.  Kisah cinta Hamzah – Muhammad Saw mengukir Uhud.  Kisah cinta Abu Bakar – Muhammad Saw melegenda.  Semua kisah cinta dihiasi dengan pengorbanan, penghormatan, kesetiaan, kecemburuan serta pembelaan. 
 
Bila cinta itu tidak gila, maka itu bukan cinta.  Bila Anda tidak bersedia untuk sampai kepada pinggir-pinggir kewarasan untuk mencapai cinta kasih yang Anda impikan, maka Anda tidak cukup menginginkan keindahan dari cinta kasih yang mungkin Anda capai.  Dia yang sampai berlaku tolol karena kegugupannya dalam mengungkapkan cintanya, adalah yang paling pantas dicintai (Mario Teguh).
 
Sahabat, jika kita telah menyatakan diri ini cinta pada Allah Swt, Muhammad Saw; ketololan apa yang telah kita lakukan?  Apakah seperti Muhamad Saw yang bengkak kakinya dalam bersujud, menukar tawaran menjadi yang terkaya dan berkuasa di Mekah dengan pengucilan (boikot) yang memedihkan.  Atau seperti Hamzah yang menyerahkan dadanya untuk diperas dengan penuh kebencian HIndun.
Ketulusan mencinta kita hanya sebesar pengorbanan yang diberikan, semendidih kecemburuan yang menggelegak seberapa kuat pembelaan yang tidak diminta.  Cinta sejati diukir bukan oleh kata-kata, janji dan angan-angan.  Orang-orang yang sangat mengerti cinta atau sedang terlibat dalam cinta yang sama; tidak pernah menertawakan, memertanyakan, apatah lagi mencibir perilaku ‘gila’ para pencinta.
 
Jangan bilang cinta jika tidak cemburu.  Jangan bilang cinta jika tidak membela.  Jangan bilang cinta jika takut berkorban.
Katakan saja : suka atau, ’siapa kamu?’.
Apa kepantasannya bilang cinta, kemudian diam membeku……
 
—–
 
Ada sebagian kecil diantara kaum muslimin yang memiliki sudut pandang bahwa upaya boikot sebagai bentuk kelemahan intelektual, bukankah dia sedang memertanyakan tingkat intelektualias ke-Islam-an Dr. Yusuf Qardhawi.  Pun jika upaya boikot dipandang lahir dari kotornya hati, apa pantasnya mengatakan demikian pada beliau yang lembut hati itu?  Apakah kurang cerdas seorang Dr Mahatir Muhammad, sehingga beliau menganjurkan pemboikotan yang ’stupid’ itu?  Apakah beliau-beliau kurang bersih hatinya, sehingga beliau-beliau tidak dapat memisahkan yang baik dan benar dari yang buruk dan salah?
 
Janganlah menyembunyikan kelemahan hati atau lunturnya kecintaan dibalik ungkapan kalimat hati yang bersih dan lembut.  Umar bin Khatab itu lembut hatinya.  Hamzah itu lembut hatinya.  Yusuf Qardhawi itu lembut hatinya.  Dan mereka adalah contoh-contoh mulia dari ketegasan.
 
Sahabat-sahabat pembaca blog yang budiman,
 
Dunia ini memiliki logika kecenderungan yang ‘aneh’.
 
Saddam Husein yang dicurigai bersalah; yang dibom, diinvasi, diduduki, ditembaki, dimiskinkan, dihukum adalah jutaan rakyat Irak.  Tidak suka dengan perangai Usamah bin Laden, seluruh atribut Islam dimusuhi.  Tidak setuju dengan cara pengelolaan negara versi kaum Taliban; maka negara Afghanistan dianeksasi, diserbu, diduduki dan di-demokrasi-kan.
 
Tapi mekanisme peng-hukum-an seperti ini tidak sepenuhnya milik manusia modern.  Kalau tsunami Aceh merupakan pengingatan atau hukuman bagi segelintir orang Aceh yang berlumur dosa; maka tetap saja seluruh rakyat Aceh menerima kepedihannya.  Bukan-kah demikian diwahyukan, bahwa jika hukuman itu datang, tidak hanya menimpa pribadi-pribadi berdosa an-sich saja melainkan juga kepada seluruh kaum itu?
 
Bukanlah dengan logika yang sama, seharusnya kita dapat menerima sebuah kenyataan sanksi dari peradaban Dunia Islam bagi Wilders!  Agar tidak ada lagi penistaan bagi Islam.  Agar kaum muslim Belanda lebih giat lagi berdakwah.  Agar ukhuwah menampilkan bentuk terbaiknya.  Agar cinta tidak terpasung ketakutan dari lemahnya hati.  Agar cinta benar-benar mewujud dalam bentuk lahiriah terindahnya.

Sebuah lengkung ajaib

Akhir-akhir ini, semakin sering saya mendengar sebuah kelakar ’saat ini, segala sesuatu mahal, bahkan senyum sekali pun’.  Sebuah frasa satir yang penuh kritik.  Tetapi, memang selalu ada kekuatan dibalik sebuah kelakar lucu, seperti yang dikatakan oleh Robin William bahwa lelucon adalah ungkapan sikap optimis.

 

Senyuman yang sebenarnya adalah lengkungan bibir yang penuh

 

Senyuman adalah bentuk terindah bahasa tubuh yang dapat dinikmati orang lain dari sebuah pribadi hati yang merona bahagia.   Senyuman, juga adalah ekspresi jiwa yang terbebas dari keburukan. Walau ada istilah senyum kecut, senyum penuh misteri – senyum monalisa, senyum menggoda, senyum mengejek; itu semua sebenarnya tidak dapat dikatakan sebagai sebuah senyuman, melainkan hanya lengkungan bibir yang tidak penuh.  Karena senyuman yang sebenarnya adalah lengkungan bibir yang penuh.  Dan hanya karena ketulusan lah, sebuah lengkungan bibir dapat mencapai bentuk sempurnanya.

 

Uang ditukarkan dengan barang atau jasa, senyuman ditukarkan dengan rasa jiwa

 

Jika kita membutuhkan barang atau jasa dari seseorang, kita harus menukarkannya dengan uang – karena metoda barter sudah lama tidak populer.  Tetapi jika kita, Anda dan saya, ingin membeli perasaan seseorang, hanya bisa menawarnya pertama kali dengan down payment sebuah senyuman.

 

Senyuman juga memiliki kelebihan terbaiknya dalam hal tukar menukar, karena dia satu-satunya alat tukar di dunia yang dapat diterima semua bangsa.  Sebuah alat tukar yang tidak pernah mengalami inflasi, depresiasi apatah lagi politisasi.  Karena senyuman adalah bentuk terbaik dan paling sederhana dari hegemoni universalitas.

 

Senyuman adalah sebuah lengkungan yang meluruskan segala sesuatunya

(Phyllis Diller)

 

Banyak sekali kesulitan, masalah, kekeliruan, kegundahan, kekacauan atau keburukan yang dapat diwakilkan pada bentuk-bentuk garis yang melengkung.  Kita seringkali melukiskan kompleksitas permasalahan yang tinggi dengan garis yang melengkung tak beraturan menyerupai benang kusut.  Dan seperti yang sering kita alami atau temukan bersama, sebuah senyuman benar-benar dapat menjadi pemungkin lurusnya garis-garis itu. Dia adalah lengkungan yang ajaib.  Bukankah telah sampai pada kita, kisah-kisah pelayanan yang tulus menjadi penyebab selasainya keluhan-keluhan pelayanan publik, bahkan tidak jarang yang selesai sebelum sampai pada titik permasalahan yang sebenarnya.

 

Tetapi juga mohon diingat, seringkali lengkungan tidak penuh (cemberut, muka masam, tidak ramah, tidak tulus, jutek) yang mengundang permasalahan muncul, membesar bahkan menambah akut.

 

Jika kamu tidak menggunakan senyumanmu, kamu seperti orang yang memiliki tabungan satu juta dollar, tetapi tidak mempunyai buku cek untuk mengambilnya

(Les Giblin)

 

Maka, tersenyumlah.  Karena senyum adalah bentuk termudah berbagi dengan sesama.

 

Sudah sampaikah berita dari langit kepada Anda, bahwa senyum adalah sebuah kemuliaan?

« Entri lama