Keadilan adalah kualitas terdekat pada taqwa

Keadilan adalah kualitas terdekat pada taqwaKualitas tertinggi kemanusiaan adalah taqwa. Maka kepantasan penilaian seorang manusia atas derajat ketaqwaannya hanya ada pada Yang Maha Mengetahui. Dengan demikian, tidak ada mahkamah ataupun pribadi di dunia ini yang mampu melakukan penilaian ketaqwaan. Mungkin karena dimensi utama ketaqwaan terdiri dari kualitas baik amal fisik (lahiriah) dan kualitas baik amal non-fisik (bathiniah).Yang Maha Penyayang tidak pernah merencanakan kesulitan bagi manusia dalam mengabdi pada-Nya. Untuk itu, diturunkan sebuah sistem untuk mendekati kualitas kesempurnaan taqwa, yaitu keadilan. Ada ketentuan hakim, perangkat hukum, sistem lembaga peradilan, ketentuan saksi, ketentuan bukti, dan lain sebagainya.

Pedoman utama dan contoh arif sistem keadilan ini telah tuntas diturunkan dan diteladankan. Namun karena pelaku dan konteks perkara sangat adaptif pada waktu dan tempat tertentu, maka akan ada sinar kebenaran yang senantiasa berlabuh di hati-hati yang bersih. Itu semua adalah karena Kasih Sayang-Nya yang meliputi masa dan tempat.

 

Jika mendapatkan keadilan adalah hal yang sangat berat bagi Anda, maka Anda bisa mengupayakan rasa adil.

Tuntutan kita sering terlalu tinggi bagi orang lain, namun sering terlalu rendah bagi diri sendiri. Pada keluarga poligami, tuntutan keadilan berfokus pada sang suami. Pada kehidupan bernegara, tuntutan keadilan berpusat pada pemimpin negara. Pada kehidupan, seringkali tuntutan keadilan dipertanyakan hanya kepada Yang Maha Adil.Yang sering kita tuntutkan kepada makhluk di luar kita adalah keadilan yang final. Kita berpura-pura tidak tahu bahwa pihak yang dituntut tidak mensifati kesempurnaan. Padahal jika harapan kita sepenuh keyakinan kita; yang kita perlukan untuk mencukupkan keinginan diperlakukan adil hanyalah rasa adil, seperti kita memenuhi keinginan selera makan dengan rasa makanan. Bukankah sebenarnya bukan kadar garam yang seimbang bagi kebutuhan nutrisi tubuh kita, yang membuat kita puas, melainkan rasa garam yang pas dengan selera kita.

Sebenarnya bukan keadilan yang mendamaikan kita, melainkan rasa diperlakukan adil yang menenteramkan jiwa. Dan semua rasa adalah tentang selera. Semua rasa memiliki sifat relatif, tidak sama antar pribadi, berkembang setiap saat serta dipengaruhi berjuta faktor. Tetapi yang paling dapat memanipulasi rasa Anda adalah pendapat (hasil olah pikir dan/atau suara hati) Anda.

 

Merasa diperlakukan adil tidak sama dengan diperlakukan sama.

Pada jenis keadilan yang paling primitif, ukuran fisik yang sama adalah representasi paling diterima tentang keadilan. Tapi mohon untuk disadari, secara alamiah Allah Swt tidak menciptakan setiap pribadi sama persis - bahkan kembar identik sekali pun. Jadi menimbang keadilan dengan kesamaan fisik adalah keadilan yang buta dan tak berdasar. Bagaimana mungkin rasa keadilan di dapat jika untuk seorang berberat badan 100 kg mendapatkan jatah makan sama dengan seseorang berberat badan 55 kg?Untuk itu, kemudian jenis keadilan selanjutnya adalah proporsional. Tetapi karena tuntutan proporsional melibatkan banyak faktor, maka tidak populer dan tidak akan disukai masyarakat yang berbudaya pragmatis - jangka pendek. Penerimaan dan keberhasilan keadilan jenis proporsional sangat ditentukan oleh jumlah faktor penimbangnya. Semakin banyak faktor yang dipertimbangkan, semakin berkuaitas keadilan yang dihasilkan - namun semakin sulit diputuskan. Ini yang sedang diupayakan oleh masyarakat modern. Namun sayangnya, manusia akan terbentur pada keterbatasan ilmu, wawasan dan kapasitas mengolah; jika semua faktor pembentuk rasa adil ingin dipertimbangkan.

Tapi ada jenis keadilan yang sempurna, yaitu keadilan ilahiah.
Tidak semua keadilan ilahiah ada di ranah surgawi. Beberapa diantaranya bahkan dekat dalam keseharian kita. Yang Maha Adil telah memilihkan bagi kita, hal-hal kehidupan yang dapat diwujudkan keadilannya di dunia ini. Yang Maha Mengetahui juga sangat peka dengan skala prioritas kehidupan dunia sehingga hanya memilihkan yang benar-benar penting, jika Anda percaya.

Keadilan ilahiah itu diantaranya adalah ketentuan pembagian waris, ketentuan talak, pengharaman riba, kebolehan poligami, kewajiban menafkahi dibebankan pada suami, haramnya babi dan seterusnya. Keadilan ilahiah itu diwujudkan secara sempurna dalam sebuah Sistem Dienul Islam. Mengapa hanya Islam? Salah satu yang sulit dibantah adalah fakta bahwa Al Quran adalah satu-satunya kitab yang paling dapat dipertanggung jawabkan orisinalitasnya dari Yang Maha Pencipta, hingga saat ini.

Perbincangan keadilan

Dalam banyak diskusi tentang poligami, para wanita selalu menjadikan syarat kemampuan bersikap adil bagi keabsahan seorang pria berpoligami. Pria boleh berpoligami jika mampu bersikap adil.

Setahu saya, kemampuan bersikap adil tidak hanya dituntut bagi yang berpoligami. Yang monogami pun, seorang suami dituntut harus mampu bersikap adil. Bahkan yang belum punya istri sekalipun dituntut berlaku adil, yaitu dengan menikah. Bukankah jika dia memutuskan tidak menikah, berarti dia tidak berlaku adil pada seorang wanita!

Untuk itu, tuntutan berperilaku adil juga tidak hanya bagi suami atau pria saja, melainkan bagi wanita juga. Lebih jauh lagi, sebetulnya perilaku adil merupakan tuntutan pada segenap manusia yang beriman. Karena keadilan adalah kualitas terdekat pada taqwa.

 

 

Kekuatan pendapat

Dari semua hal yang dapat diindera manusia, pendapat adalah hal terkuat yang dimiliki manusia.

 

Kita, Anda dan saya, memiliki suara hati.  Tetapi karena suara hati bukan suara yang dapat diindera, maka yang dapat mewakili kepentingan sebuah pribadi adalah pendapatnya.  Bagaimana sebuah pendapat dilahirkan, bagi pergaulan tidaklah terlalu penting.  Yang paling penting dalam komunikasi manusia adalah pendapat itu sendiri.  Pendapat adalah sikap resmi sebuah pribadi.

 

Pendapat tidak harus berwujud suara.  Dia dapat saja berwujud rangkaian kata di atas kertas.  Atau bisa juga berupa isyarat tangan dan bahasa tubuh lainnya.

 

Seorang atlit binaraga yang kekar tidak dapat memaksakan pendapatnya pada seorang pelajar menengah dasar yang kurus kering.  Demikian pula halnya dengan juara tinju kelas berat dunia tidak dapat memaksakan pendapatnya agar diikuti oleh seorang mahasiswa kutu buku berkacamata tebal sekalipun.

 

Pekan ini, pemberitaan di media masa dipenuhi dengan argumentasi logis rendahnya urgensi menaikkan BBM.  Demonstrasi telah dikerahkan oleh hampir segenap elemen masyarakat untuk membendung kenaikan BBM.  Telah berhamburan analisa dari berbagai pakar ekonomi dan politik yang menyangsikan alasan logis kenaikan harga BBM.  Hampir saja seluruh elemen masyarakat di negeri berjuta pulau ini menghimbau agar harga BBM tidak naik, terkait dengan potensi dampak negatifnya bagi kesejahteraan rakyat banyak.  Tapi apa daya, pemimpin pemerintahan telah memiliki pendapatnya sendiri.  Seperti tidak ada gunanya jumlah suara rakyat yang terdengar.

 

Dan yang lebih mengerikan lagi, pendapat merupakan kekuatan yang dapat mengarahkan bagaimana kekuatan lainnya digunakan.  Ingat bagaimana porak porandanya negara indah Irak?  Itu semua dimungkinkan oleh sebuah pendapat blunder dari seorang pemimpin.

 

Jika Anda belum dapat melihat seberapa hebat kekuatan pendapat, maka lihatlah kaum atheis.  Mereka dapat melenyapkan keberadaan Tuhan di kehidupan kasat mata mereka.  Pendapat atheisme telah mampu merampas keberadaan Tuhan dalam keyakinan manusia.  Thus, hal besar apa lagi di dunia ini yang dapat disandingkan dengan urusan ke-Tuhan-an?

 

Maka berhati-hatilah dengan pendapat Anda.

 

Dari semua hal yang dapat diindera manusia, pendapat adalah hal terkuat yang dimiliki seorang manusia.

Jangan pernah membiarkan kumpulan tanpa susunan.

Jangan pernah membiarkan kumpulan tanpa susunan.
 
Dalam banyak kumpulan hal sejenis di kehidupan ini, kita seringkali terkesima oleh jumlah yang besar.  Kita terpukaukan oleh banyaknya jumlah mobil yang dimiliki seorang pejabat, luas tanah yang dimiliki sertifikatnya atau berapa banyak rumah yang disinggahinya.
 
Tetapi mohon untuk lebih cermat mengamati, bahwa sebetulnya ada yang lebih utama dari sekedar jumlah.  Atau lebih tepatnya, jumlah saja tidak cukup.
 
Sebuah buku kamus, jumlah kata di dalamnya jauh lebih banyak dari buku apapun.  Tetapi harga sebuah kamus dan nilai tambah sebuah kamus tidak akan setinggi buku tipis yang disusun oleh penulis terkenal.  Harus dikatakan bahwa 5000 kata dalam kamus, tidak memberikan manfaat sebaik sebuah kalimat inspiratif seperti ini : Anda tak mungkin bersalaman dengan tangan terkepal (Indira Gandhi). <!–
{book_title}–>
 
Kita akan kehilangan manfaat terbesar dari suatu benda, jika kita hanya terfokus pada jumlahnya saja tanpa memperhatikan urutannya.  Ribuan, bahkan jutaan gerombolan kata, tidak berarti apa pun jika tidak disusun.  Mohon Anda perhatikan, kata kuncinya adalah disusun.
 
Disusun memiliki derivasi makna tersembunyi ikutan antara lain : memiliki tujuan tertentu, cara tertentu, kaidah tertentu, dampak yang ingin dicapai tertentu, alasan tertentu, motivasi tertentu.
 
Jika menyia-nyiakan adalah perilaku buruk yang sangat tak terpuji, apakah nama dari daftar alamat yang dihimpun dalam sebuah milist tanpa moderasi yang memuliakan.  Apakah nama dari upaya memperbanyak kartu anggota tanpa membinanya.  Apakah nama dari upaya mengumpulkan banyak pengikut tanpa keteladanan.
 
Jangan pernah membiarkan kumpulan tanpa susunan.

« Tulisan sebelumnya