Kesempurnaan menikmati ditentukan oleh ketepatan berhenti menikmatinya.

Kesempurnaan menikmati ditentukan oleh ketepatan berhenti menikmatinya
 
Dalam melukis lukisan abstrak – membutuhkan kemampuan untuk mengenali kapan saat untuk berhenti (Mario Teguh).
Bagaimana jadinya sebuah lukisan abstrak jika kanvasnya tidak menyisakan ruang tanpa cat minyak.  Apakah mudah dibedakan antara luksan anak yang sedang belajar membuat garis dengan maestro abstrak, jika ruang lukisnya penuh dengan garis-garis tak beraturan.  Jadi perbedaan corat-coret seorang anak dengan maestro Affandi, hanya pada saat kapan terakhir mengangkat kuas dari kanvas.
 
Dalam menggaruk – harus mengetahui kapan saat yang tepat untuk berhenti.
Menggaruk bagian yang gatal adalah salah satu kenikmatan yang mudah dan memiliki sensasi kepuasan tinggi.  Tapi akan segera menjadi bencana bagi kesehatan kulit jika kita tidak berhenti saat lapisan kulit ari bagian terluar mulai terkelupas.  Dan luka lecet akibat garukan, jarang sebuh dalam hitungan jam, melainkan hari untuk meninggalkan noda.  Pula, segera setelah menggaruk yang melewati batas waktunya, akan meninggalkan perih – bukan lagi kenikmatan.
 
Berhenti makan tepat sebelum kenyang (Muhammad Saw).
Pasti banyak rahasia dari anjuran mulia untuk berhenti makan tepat sebelum kenyang.  Tetapi kita semua yang sangat berpengalaman melewati batas tipis itu, seringkali diserang penurunan fokus konsentrasi, kantuk, begah kekenyangan, gangguan pencernaan, kegemukan, serangan jantung, kencing manis dan sederet disfungsional tubuh akibat pola makan yang tidak adil bagi tubuh.  Kemudian banyak pribadi yang dihukum atau menghukum diri dengan menolak atau dihindarkan mengkonsumsi jenis makanan tertentu – bahkan ada pembatasan yang membuat dirinya tersiksa lagi.  Padahal kenikmatan makan adalah salah satu anugerah yang asasi makhluk hidup.
 
Bangun tidur disepertiga malam (Wahyu Illahi)
Tidak akan cukup lautan tinta untuk menuliskan seluruh hikmah, walau hanya dari sepenggal wahyu.  Khabar dari para penikmat sepertiga malam terakhir adalah kekuatan perkataan, kejernihan pikiran, kebeningan hati, kesantunan berperilaku, sensitivitas tinggi, kedamaian perasaan, rasa cinta paling tinggi, kebersahajaan sikap, kebijakan yang luas dan lain sebagainya.  Bukan jumlah jam jaga dalam sepertiganya yang paling menentukan, melainkan pilihan penggalannya yang mengkondisikan.  Bukankah para kupu-kupu malam, telah menghabiskan setengah malamnya untuk berjaga, hanya saja bagian penggalan di muka – yang kemudian mengkondisikan kehidupan yang hina.  Entah apa kalimat rahasianya pada alam ini; sepertiga malam awal untuk para pecinta dunia dan sepertiga malam terakhir untuk para pecinta dunia-akhirat.  Sepertiga malam awal untuk banyak aktivitas keburukan dan sepertiga malam terakhir untuk banyak aktivitas kebaikan.
 
Mengundurkan diri dari kursi kepemimpinan
Salah satu kenikmatan yang paling mempesona manusia, membanjirkan begitu banyak darah, meneteskan begitu banyak air mata kepedihan, menyedot paling banyak angka berbilang biaya; adalah kenikmatan berkuasa.  Kita telah banyak menyaksikan akhir yang tragis, memilukan, menghinakan, dari para pemimpin yang melewati batas usia kepemimpinannya.  Sejarah kita juga mencatat pribadi-pribadi emas yang mengenali dan berhenti tepat dari kursi kekuasaan – baik atas rencana dirinya atau rencana Yang Maha Merencanakan.  Para Nabi mulia selalu Dihentikan pada saat kegemilangannya. Katanya Dr. Mahatir Mohammad mengundurkan diri pada titik terbaiknya.  Buya HAMKA berhenti menjabat saat yang tepat.  Bung Hatta mengundurkan diri pada saat yang tepat.
Kualitas visioner seorang pemimpin yang sebenarnya adalah mengetahui saat yang tepat meletakkan jabatannya, bukan karena aturan ketat periodesasi.
 
Mohon agar kita tidak khawatir, sebab jika kita – Anda dan saya,  tidak melihat dengan jelas kapan saat yang tepat itu datang, kita bisa meminta bantuan dari Yang Maha Mengetahui, bahkan untuk kepemimpinan di keluarga kita.  Mungkin istilah khusnul khatimah – meninggal dalam kemuliaan, adalah istilah lain dari saat pemberhentian yang tepat pada kehidupan ini.
 
Kesempurnaan menikmati ditentukan oleh ketepatan berhenti menikmatinya.

Sebuah Buku, Setetes Ilmu

Dakwah secara umum dan tegas adalah amr ma’ruf wa nahi munkar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah pada kemungkaran.  Sementara itu, sebaik-baiknya ajakan adalah ajakan yang secara efektif mampu menggerakkan ummat atas dasar dorongan kesadaran nuraninya untuk menjadi insan yang bertaqwa.  Bahkan Al Qur an memuji, bahwa sebaik-baiknya ummat adalah ummat yang senantiasa melakukan proses dakwah (amr ma’ruf nahi munkar) secara istiqomah sepanjang waktu.

Ada banyak beragam aktivitas atau program dakwah.  Keberagaman ini tumbuh bersemai seiring dengan kondisi sosial masyarakat, tantangan, pola budaya, serta intensitas kreativitas pada da’i.  Hal ini dimungkinkan mengingat Risalah Islam hanya menggariskan keseragaman manhaz dakwah, bukan pada kesamaan pola aktivitas atau program.   Sehingga dalam mencapai target-target dakwah yang diteladankan pada manhaz nubuwah, aktivis dakwah dapat secara kreatif, inovatif merancang program atau aktivitas yang paling sesuai dikaitkan dengan konteks kekinian, dengan tetap bersandarkan pada rambu-rambu Risalah.

Disadari atau tidak, disengaja atau tidak; beberapa tahun terakhir ini ummat Islam, khususnya di Indonesia sedang menapaki kecenderungan dakwah menggunakan media buku.  Dipicu oleh tantangan gowzul fikr, maka dunia dakwah Islam sedang memasuki episode dakwah bil kitab. Fenomena yang mudah dikenali adalah bertebarannya penerbit-penerbit dakwah yang menerbitkan beraneka buku, baik karangan ulama Indonesia, maupun terjemahan-terjemahan buku yang mashur dan berbobot dari ulama di belahan dunia Islam lainnnya.  Bagaimana geliat Mizan, Gema Insani Press, As Syaamil, Manajemen Qalbu Media, Izzudin Press dll, dapat dijadikan tolok ukur bergairahnya dunia penerbitan dakwah di Indonesia.

Menghadirkan buah pikiran pengarang atau pemikiran-pemikiran sosok ulama dalam sebuah buku bermutu, adalah rantai pertama dari sebuah gerakan dakwah bil kitab.  Rantai selanjutnya yang juga tidak kalah strategisnya adalah menghantarkannya ke hadapan kaum muslimin.  Fungsi ini diemban oleh eksistensi toko buku.  Secara jujur, harus diakui, tumbuh kembangnya toko buku Islam (dakwah), masih jauh dari harapan memadai, apatah lagi jika dibandingkan dengan tingkat agresivitas ekspansi toko buku non muslim atau toko buku sekuler.  Saat ini, laju pertumbuhan gerai Gunung Agung sebagai representasi toko buku Islam, sangat jauh dibandingkan Gramedia.  Jadi, kemanakah mengalirnya buku-buku dakwah yang membanjir itu?

Lebih cermat dan teliti menelaah pola distribusi buku-buku Islam, akan ditemukan gerai-gerai kios kecil di pasar-pasar, dekat kampus dan kaki lima atau penjaja langsung.  Pola distribusi seperti ini, jauh dari kesan menghadirkan kualitas dan utamanya tidak menyentuh target pembaca yang memang dituju oleh terbitnya buku-buku dakwah tersebut.  Harus diakui bahwa peminat buku-buku dakwah berkualitas, lebih banyak dan lebih suka mencari buku di ruangan-ruangan nyaman dengan penyajian tertata rapi.  Kesenjangan inilah yang saat ini belum mampu dijembatani oleh wirausahawan toko muslim.  Gerai toko buku Islam, harus dikelola dengan sistem franchise untuk mencapai distribusi yang rapat dan perkembangan yang pesat.

Selain melalui toko, distribusi buku Islam dapat dilakukan melalui pameran buku (Islamic Book Fair).  Walaupun sangat terbatas dari sisi durasi waktu dan tempat, saat ini dapat merupakan wahana efektif untuk mendekatkan kaum muslimin dengan pesan para ulamanya.  Dengan perencanaan dan pelaksanaan yang tepat, even-even pameran merupakan sarana yang telah terbukti efektif bagi distribusidan promosi buku-buku dakwah.  Disamping itu, berdasarkan pengalaman penulis, dapat pula dilakukan pameran-pameran lokal dan mini.  Ketika menjelang liburan, sie rohani Islam sekolah-sekolah dapat mengadakan pameran buku-buku Islam bekerjasama dengan toko buku atau penerbit.  Contoh lainnya yang harus disosialisasikan dan dibudayakan adalah menggelar pameran-pameran kecil dilingkungan perumahan pada even-even hari-hari libur atau hari besar Islam.

Rantai kreatif, inovatif dan akan lebih efektif adalah dengan menumbuhkan perpustakaan-perpustakaan mini dilingkungan rumah.  Dalam sistem pendidikan MBS (manajemen berbasis sekolah) yang dikembangkan oleh UNICEF, kehadiran perpustakaan diruang-ruang kelas yang dikelola oleh siswanya, terbukti efektif meningkatkan kualitas pendidikan sekolah tersebut.  Pola seperti ini dapat diadaptasi untuk dilaksanakan di lingkungan RT, RW atau mushola.  Gerakan perpustakaan lingkungan, akan mampu secara efektif mendekatkan buku dengan kaum muslimin.

Al Qur an sebagai pedoman hidup kaum muslimin, adalah sebuah buku.  Buku-buku pula yang merekam ilmu Allah, walau ilmu itu tidak akan pernah dapat dituliskan seluruhnya pada buku.  Sebuah buku adalah setetes ilmu.  Tetes-tetes itu, harus dipelihara, dikumpulkan dan disalurkan dengan baik dan terorganisasi, agar didapatkan manfaat seteguk ilmu.  Teguk demi teguk itu harus mengalir dalam kerongkongan pemahaman ummat Islam, sehingga akan mampu mendukung aktivitas kehidupan seluruh organ masyarakat muslim dalam membentuk masyarakat Qur ani.  Wallahu’alam bish showab. 

Entri Lebih Baru »