Engkau akan bersama yang engkau cintai (Muhammad dalam buku Shahih Muslim)
Sahabat-sahabat pembaca blog yang budiman,
Saya tidak memiliki kemampuan dan keilmuan untuk men-syarah wahyu di atas, yang dilisankan oleh manusia paling suci dan paling mulia akhlaknya. Apa yang saya kemukakan ini, hanya berdasarkan kecemburuan.
Mencintai dengan tulus, adalah pilihan manusia merdeka. Tidak ada di dunia ini sebuah tekanan dalam bentuk apa pun untuk dapat membuat seseorang mencintai sesuatu. Mencintai adalah pilihan, bukan kewajiban apatah lagi paksaan. Manusia bahkan diberikan kebebasan untuk tidak mencintai Sang Penciptanya!
Bukankah sangat banyak manusia yang diguncang gempa, dihanyutkan banjir, didekatkan dengan maut, digerogoti penyakit, dipapa-kan dengan kemiskinan, dibangkrutkan ekonominya, dipisahkan keluarganya, diancam siksa neraka terpedih, ditawarkan kenikmatan surga yang terindah; tidak juga mengalihkan obyek cintanya.
Sahabat, mohon untuk diperhatikan, pilihan siapa atau apa yang kita cintai menunjukkan siapa kita sebenarnya. Mereka yang memilihkan untuk dirinya cinta pada kebenaran, adalah pribadi mulia. Mereka yang memilihkan untuk dirinya cinta pada keburukan, adalah pribadi buruk. Untuk itu, saya menawarkan daftar prioritas pilihan yang baik dan ringkas untuk dicintai : Allah Swt, Muhammad Saw, diri sendiri dan keluarga (istri/suami, anak, orang tua).
Saya sangat berbahagia sekali jika Anda memiliki kesamaan pilihan dengan saya. Bukankah atas dasar wahyu di atas, maka keindahan, kebahagiaan, kenikmatan paling sempurna akan terwujud jika pilihan mencinta kita jatuh pada : Allah Swt, Muhammad Saw, diri sendiri dan keluarga.
……..
Semua kesungguhan melahirkan bukti, apa yang cintamu lahirkan…
Jika kita sungguh-sungguh menginginkan keberhasilan, akan sungguh-sungguh mengupayakan, sehingga pencapaian keberhasilan menjadi logis menjadi haknya. Khusus untuk cinta, tidak diperlukan lagi kata penguat sungguh-sungguh, karena pada mencinta ada kesungguhan yang besar dan kuat. Jika cinta tidak kuat dan tidak besar, maka tidak berhak dinamakan cinta; melainkan hanya suka.
Kisah cinta telah menginspirasi jutaan sastrawan untuk menulis jutaan karya sastra yang indah dan fenomenal. Walau disinyalir hanya rekaan, kisah cinta Romeo - Juliet tetap memesona setiap dipentaskan. Kisah nyata cinta sejati yang agung antara Muhammad Saw - Khadijah, menyajikan episode surga di ranah fana. Kisah cinta Hamzah - Muhammad Saw mengukir Uhud. Kisah cinta Abu Bakar - Muhammad Saw melegenda. Semua kisah cinta dihiasi dengan pengorbanan, penghormatan, kesetiaan, kecemburuan serta pembelaan.
Bila cinta itu tidak gila, maka itu bukan cinta. Bila Anda tidak bersedia untuk sampai kepada pinggir-pinggir kewarasan untuk mencapai cinta kasih yang Anda impikan, maka Anda tidak cukup menginginkan keindahan dari cinta kasih yang mungkin Anda capai. Dia yang sampai berlaku tolol karena kegugupannya dalam mengungkapkan cintanya, adalah yang paling pantas dicintai (Mario Teguh).
Sahabat, jika kita telah menyatakan diri ini cinta pada Allah Swt, Muhammad Saw; ketololan apa yang telah kita lakukan? Apakah seperti Muhamad Saw yang bengkak kakinya dalam bersujud, menukar tawaran menjadi yang terkaya dan berkuasa di Mekah dengan pengucilan (boikot) yang memedihkan. Atau seperti Hamzah yang menyerahkan dadanya untuk diperas dengan penuh kebencian HIndun.
Ketulusan mencinta kita hanya sebesar pengorbanan yang diberikan, semendidih kecemburuan yang menggelegak seberapa kuat pembelaan yang tidak diminta. Cinta sejati diukir bukan oleh kata-kata, janji dan angan-angan. Orang-orang yang sangat mengerti cinta atau sedang terlibat dalam cinta yang sama; tidak pernah menertawakan, memertanyakan, apatah lagi mencibir perilaku ‘gila’ para pencinta.
Jangan bilang cinta jika tidak cemburu. Jangan bilang cinta jika tidak membela. Jangan bilang cinta jika takut berkorban.
Katakan saja : suka atau, ’siapa kamu?’.
Apa kepantasannya bilang cinta, kemudian diam membeku……
—–
Ada sebagian kecil diantara kaum muslimin yang memiliki sudut pandang bahwa upaya boikot sebagai bentuk kelemahan intelektual, bukankah dia sedang memertanyakan tingkat intelektualias ke-Islam-an Dr. Yusuf Qardhawi. Pun jika upaya boikot dipandang lahir dari kotornya hati, apa pantasnya mengatakan demikian pada beliau yang lembut hati itu? Apakah kurang cerdas seorang Dr Mahatir Muhammad, sehingga beliau menganjurkan pemboikotan yang ’stupid’ itu? Apakah beliau-beliau kurang bersih hatinya, sehingga beliau-beliau tidak dapat memisahkan yang baik dan benar dari yang buruk dan salah?
Janganlah menyembunyikan kelemahan hati atau lunturnya kecintaan dibalik ungkapan kalimat hati yang bersih dan lembut. Umar bin Khatab itu lembut hatinya. Hamzah itu lembut hatinya. Yusuf Qardhawi itu lembut hatinya. Dan mereka adalah contoh-contoh mulia dari ketegasan.
Sahabat-sahabat pembaca blog yang budiman,
Dunia ini memiliki logika kecenderungan yang ‘aneh’.
Saddam Husein yang dicurigai bersalah; yang dibom, diinvasi, diduduki, ditembaki, dimiskinkan, dihukum adalah jutaan rakyat Irak. Tidak suka dengan perangai Usamah bin Laden, seluruh atribut Islam dimusuhi. Tidak setuju dengan cara pengelolaan negara versi kaum Taliban; maka negara Afghanistan dianeksasi, diserbu, diduduki dan di-demokrasi-kan.
Tapi mekanisme peng-hukum-an seperti ini tidak sepenuhnya milik manusia modern. Kalau tsunami Aceh merupakan pengingatan atau hukuman bagi segelintir orang Aceh yang berlumur dosa; maka tetap saja seluruh rakyat Aceh menerima kepedihannya. Bukan-kah demikian diwahyukan, bahwa jika hukuman itu datang, tidak hanya menimpa pribadi-pribadi berdosa an-sich saja melainkan juga kepada seluruh kaum itu?
Bukanlah dengan logika yang sama, seharusnya kita dapat menerima sebuah kenyataan sanksi dari peradaban Dunia Islam bagi Wilders! Agar tidak ada lagi penistaan bagi Islam. Agar kaum muslim Belanda lebih giat lagi berdakwah. Agar ukhuwah menampilkan bentuk terbaiknya. Agar cinta tidak terpasung ketakutan dari lemahnya hati. Agar cinta benar-benar mewujud dalam bentuk lahiriah terindahnya.