Hari ini, marilah kita TERSENYUM

Sahabat-sahabat pembaca blog yang budiman,

  

Dalam 2 pekan ini, beberapa kejadian nasional yang penting dan menguras tenaga serta emosi telah banyak mengalihkan keceriaan dan kedamaian banyak saudara-saudara kita.  Untuk itu, dari lubuk hati yang paling dalam, saya mengajak pada kita semua untuk menjadikan hari ini adalah hari yang sangat indah. 

 

HARI INI, MARILAH KITA TERSENYUM.

 

Beberapa hari di masa lalu yang kualitasnya jauh dari harapan baik, tidak dapat kita perbaiki.

Beberapa hari di masa lalu yang kualitasnya baik, juga tidak dapat diputar ulang.

 

Sementara,

 

Hari-hari yang akan datang, walau sangat dalam kegelapan misterinya, seyogyanya tidak cukup penting untuk dapat mewarna-hitamkan hari ini.

 

Hari-hari yang akan datang, walau harapan terangnya samar-samar menerangi harapan baik kita, tetaplah bukan kenyataan yang dapat dinikmati.

 

Untuk itu, milik kita hanyalah hanya hari ini.  Maka mari kita jadikan hari ini sangat indah.

 

HARI INI, MARILAH KITA TERSENYUM.

 

Sahabat yang budiman,

Terima kasih atas kesediaan Anda menerima ajakan ini.


Wassalam

Syarif Niskala

Engkau akan bersama yang engkau cintai

Engkau akan bersama yang engkau cintai (Muhammad dalam buku Shahih Muslim)
 
Sahabat-sahabat pembaca blog yang budiman,
 
Saya tidak memiliki kemampuan dan keilmuan untuk men-syarah wahyu di atas, yang dilisankan oleh manusia paling suci dan paling mulia akhlaknya.  Apa yang saya kemukakan ini, hanya berdasarkan kecemburuan.
 
Mencintai dengan tulus, adalah pilihan manusia merdeka.  Tidak ada di dunia ini sebuah tekanan dalam bentuk apa pun untuk dapat membuat seseorang mencintai sesuatu.  Mencintai adalah pilihan, bukan kewajiban apatah lagi paksaan.  Manusia bahkan diberikan kebebasan untuk tidak mencintai Sang Penciptanya!
Bukankah sangat banyak manusia yang diguncang gempa, dihanyutkan banjir, didekatkan dengan maut, digerogoti penyakit, dipapa-kan dengan kemiskinan, dibangkrutkan ekonominya, dipisahkan keluarganya, diancam siksa neraka terpedih, ditawarkan kenikmatan surga yang terindah; tidak juga mengalihkan obyek cintanya.
 
Sahabat, mohon untuk diperhatikan, pilihan siapa atau apa yang kita cintai menunjukkan siapa kita sebenarnya.  Mereka yang memilihkan untuk dirinya cinta pada kebenaran, adalah pribadi mulia. Mereka yang memilihkan untuk dirinya cinta pada keburukan, adalah pribadi buruk.  Untuk itu, saya menawarkan daftar prioritas pilihan yang baik dan ringkas untuk dicintai : Allah Swt, Muhammad Saw, diri sendiri dan keluarga (istri/suami, anak, orang tua).
 
Saya sangat berbahagia sekali jika Anda memiliki kesamaan pilihan dengan saya.  Bukankah atas dasar wahyu di atas, maka keindahan, kebahagiaan, kenikmatan paling sempurna akan terwujud jika pilihan mencinta kita jatuh pada : Allah Swt, Muhammad Saw, diri sendiri dan keluarga.
 
……..
 
Semua kesungguhan melahirkan bukti, apa yang cintamu lahirkan…
 
Jika kita sungguh-sungguh menginginkan keberhasilan, akan sungguh-sungguh mengupayakan, sehingga pencapaian keberhasilan menjadi logis menjadi haknya.  Khusus untuk cinta, tidak diperlukan lagi kata penguat sungguh-sungguh, karena pada mencinta ada kesungguhan yang besar dan kuat.  Jika cinta tidak kuat dan tidak besar, maka tidak berhak dinamakan cinta; melainkan hanya suka.
 
Kisah cinta telah menginspirasi jutaan sastrawan untuk menulis jutaan karya sastra yang indah dan fenomenal.  Walau disinyalir hanya rekaan, kisah cinta Romeo - Juliet tetap memesona setiap dipentaskan. Kisah nyata cinta sejati yang agung antara Muhammad Saw - Khadijah, menyajikan episode surga di ranah fana.  Kisah cinta Hamzah - Muhammad Saw mengukir Uhud.  Kisah cinta Abu Bakar - Muhammad Saw melegenda.  Semua kisah cinta dihiasi dengan pengorbanan, penghormatan, kesetiaan, kecemburuan serta pembelaan. 
 
Bila cinta itu tidak gila, maka itu bukan cinta.  Bila Anda tidak bersedia untuk sampai kepada pinggir-pinggir kewarasan untuk mencapai cinta kasih yang Anda impikan, maka Anda tidak cukup menginginkan keindahan dari cinta kasih yang mungkin Anda capai.  Dia yang sampai berlaku tolol karena kegugupannya dalam mengungkapkan cintanya, adalah yang paling pantas dicintai (Mario Teguh).
 
Sahabat, jika kita telah menyatakan diri ini cinta pada Allah Swt, Muhammad Saw; ketololan apa yang telah kita lakukan?  Apakah seperti Muhamad Saw yang bengkak kakinya dalam bersujud, menukar tawaran menjadi yang terkaya dan berkuasa di Mekah dengan pengucilan (boikot) yang memedihkan.  Atau seperti Hamzah yang menyerahkan dadanya untuk diperas dengan penuh kebencian HIndun.
Ketulusan mencinta kita hanya sebesar pengorbanan yang diberikan, semendidih kecemburuan yang menggelegak seberapa kuat pembelaan yang tidak diminta.  Cinta sejati diukir bukan oleh kata-kata, janji dan angan-angan.  Orang-orang yang sangat mengerti cinta atau sedang terlibat dalam cinta yang sama; tidak pernah menertawakan, memertanyakan, apatah lagi mencibir perilaku ‘gila’ para pencinta.
 
Jangan bilang cinta jika tidak cemburu.  Jangan bilang cinta jika tidak membela.  Jangan bilang cinta jika takut berkorban.
Katakan saja : suka atau, ’siapa kamu?’.
Apa kepantasannya bilang cinta, kemudian diam membeku……
 
—–
 
Ada sebagian kecil diantara kaum muslimin yang memiliki sudut pandang bahwa upaya boikot sebagai bentuk kelemahan intelektual, bukankah dia sedang memertanyakan tingkat intelektualias ke-Islam-an Dr. Yusuf Qardhawi.  Pun jika upaya boikot dipandang lahir dari kotornya hati, apa pantasnya mengatakan demikian pada beliau yang lembut hati itu?  Apakah kurang cerdas seorang Dr Mahatir Muhammad, sehingga beliau menganjurkan pemboikotan yang ’stupid’ itu?  Apakah beliau-beliau kurang bersih hatinya, sehingga beliau-beliau tidak dapat memisahkan yang baik dan benar dari yang buruk dan salah?
 
Janganlah menyembunyikan kelemahan hati atau lunturnya kecintaan dibalik ungkapan kalimat hati yang bersih dan lembut.  Umar bin Khatab itu lembut hatinya.  Hamzah itu lembut hatinya.  Yusuf Qardhawi itu lembut hatinya.  Dan mereka adalah contoh-contoh mulia dari ketegasan.
 
Sahabat-sahabat pembaca blog yang budiman,
 
Dunia ini memiliki logika kecenderungan yang ‘aneh’.
 
Saddam Husein yang dicurigai bersalah; yang dibom, diinvasi, diduduki, ditembaki, dimiskinkan, dihukum adalah jutaan rakyat Irak.  Tidak suka dengan perangai Usamah bin Laden, seluruh atribut Islam dimusuhi.  Tidak setuju dengan cara pengelolaan negara versi kaum Taliban; maka negara Afghanistan dianeksasi, diserbu, diduduki dan di-demokrasi-kan.
 
Tapi mekanisme peng-hukum-an seperti ini tidak sepenuhnya milik manusia modern.  Kalau tsunami Aceh merupakan pengingatan atau hukuman bagi segelintir orang Aceh yang berlumur dosa; maka tetap saja seluruh rakyat Aceh menerima kepedihannya.  Bukan-kah demikian diwahyukan, bahwa jika hukuman itu datang, tidak hanya menimpa pribadi-pribadi berdosa an-sich saja melainkan juga kepada seluruh kaum itu?
 
Bukanlah dengan logika yang sama, seharusnya kita dapat menerima sebuah kenyataan sanksi dari peradaban Dunia Islam bagi Wilders!  Agar tidak ada lagi penistaan bagi Islam.  Agar kaum muslim Belanda lebih giat lagi berdakwah.  Agar ukhuwah menampilkan bentuk terbaiknya.  Agar cinta tidak terpasung ketakutan dari lemahnya hati.  Agar cinta benar-benar mewujud dalam bentuk lahiriah terindahnya.

Air takut ketemu air??

Sahabat-sahabat pembaca blog yang budiman,
Shalat Jum’at hari ini, terasa sangat istimewa.  Di Masjid Al Karim - PT Hexindo Adiperkasa - Pulogadung, waktu terasa cepat berlalu.  Benar sekali nasihat seorang cendekia bahwa detak jam yang sama dapat dirasakan berbeda kecepatannya oleh orang yang berbeda.  Pada beberapa jama’ah terasa sangat lama, sedangkan saya merasa sangat cepat; padahal pada waktu dan ruangan yang sama.  Yang membedakannya hanyalah : perasaan.
Shalat Jum’at yang istimewa, karena khatibnya (semoga Allah Swt merahmati) adalah pribadi beralur pikir sederhana, tegas dan lembut.  Khutbahnya terasa sangat dekat karena dibalut dialek Jawa-Betawi dengan kecepatan bicara yang sempurna dan desibel suara yang pas pada frekuensi penerimaan normal manusia.  Cara melantunkan ayat suci penuh kelembutan yang tegas, pasti terbangun dari jiwa yang ikhlas dan bergelora dalam semangat menyampaikan kebenaran.  Ketika shalat tiba, alunan suara yang tertib dalam tajwid dihantarkan oleh jiwa yang khusyu, membuat saya terlena bermakmum.  Pilihan surat Al A’la dan An Nazi’at sangat pas walau mungkin terasa sangat panjang bagi jama’ah yang kurang ikhlas.
Ya, bagi beberapa orang yang tidak bersyukur; kondisi hujan besar, tampias karena tak berdinding, tikar di atas jalan yang basah, ketakutan banjir; telah mengkerdilkan hatinya untuk dapat menerima ceramah yang sangat baik dan kesempatan shalat khusyu yang dipimpin imam yang ikhlas.  Bahkan di perjalanan pulang, saya mendengar seorang jamaah yang menggerutu, bahwa imamnya terlalu lama berkhutbah sehingga air hujan semakin banyak yang tampias dan membasahi tikar.  Apalagi saat sholat, surat yang dibacanya panjang-panjang dan membacanya pelan sekali, jadi celananya basah.
Sahabat-sahabat pembaca blog yang baik,
Menurut ilmu pengetahuan alam, bagian terbesar tubuh manusia terdiri atas air, hingga mencapai 80 persen.  Dengan demikian, sebenarnya manusia lebih pantas disebut sebagai makhluk air.
Tapi mengapa, air takut air?
……
Sahabat yang budiman,
Sebagai oleh-oleh, ada satu kalimat yang demikian bernilainya, sehingga saya tidak mampu menyimpannya untuk saya sendiri (telah saya simpan di HP sebagai draft sms).  Kalimat ini disampaikan oleh khatib Jum’at yang mulia itu, yaitu :
Pada semua campuran, kebaikan selalu dirugikan dan keburukan selalu diuntungkan
Kalimat tersebut dilisankan menyambut kalam suci, walaa talbisul haqqa bil bathil.
Benar dan sangat benar sekali.
Ustadz tersebut mengilustrasikan dengan jenaka pada secangkir bandrek tercampur dengan setitik kotoran kucing.  Campuran yang didominasi bandrek tersebut, tidak lagi dikategorikan sebagai bandrek yang etis diminum, melainkan berubah status menjadi barang najis - sederajat dengan kotoran kucing.  Kebaikan hanya disebut kebaikan, jika tidak terkotori sedikitpun oleh keburukan.  Sementara keburukan, tetaplah sebuah keburukan walau telah ditempelkan kepadanya banyak kebaikan. Campuran kebaikan dan keburukan bukan lagi kebaikan yang dimaafkan, melainkan keburukan.
Kita tidak bisa disebut beriman, jika mengimani Allah Swt dan juga mengimani makhluk sebagai tuhan.  Hanya dengan melepaskan semua ke-syirik-an, kita akan memasuki keimanan.  Hanya dengan kaffah kita berhak menyandang status mulia muslim. Mencampur-adukkan Islam dengan ghair Islam adalah berarti ghair Islam.  Itu-lah mengapa, seorang ulama menggambarkan betapa antara kafir dan mu’min seperti letak saluran kotoran dan saluran susu pada sapi.  Begitu dekat, hanya dipisahkan oleh dinding yang sangat tipis, namun PASTI tidak tercampur.
Ustadz yang dirahmati Allah Swt.  Terima kasih yang sangat dalam atas pengertian yang cerdas dan benar.
Sahabat-sahabat pembaca blog yang baik,
Semoga sudut pandang sederhana ini dapat menemani khasanah sudut pandang Anda.