Air takut ketemu air??

Sahabat-sahabat pembaca blog yang budiman,
Shalat Jum’at hari ini, terasa sangat istimewa.  Di Masjid Al Karim – PT Hexindo Adiperkasa – Pulogadung, waktu terasa cepat berlalu.  Benar sekali nasihat seorang cendekia bahwa detak jam yang sama dapat dirasakan berbeda kecepatannya oleh orang yang berbeda.  Pada beberapa jama’ah terasa sangat lama, sedangkan saya merasa sangat cepat; padahal pada waktu dan ruangan yang sama.  Yang membedakannya hanyalah : perasaan.
Shalat Jum’at yang istimewa, karena khatibnya (semoga Allah Swt merahmati) adalah pribadi beralur pikir sederhana, tegas dan lembut.  Khutbahnya terasa sangat dekat karena dibalut dialek Jawa-Betawi dengan kecepatan bicara yang sempurna dan desibel suara yang pas pada frekuensi penerimaan normal manusia.  Cara melantunkan ayat suci penuh kelembutan yang tegas, pasti terbangun dari jiwa yang ikhlas dan bergelora dalam semangat menyampaikan kebenaran.  Ketika shalat tiba, alunan suara yang tertib dalam tajwid dihantarkan oleh jiwa yang khusyu, membuat saya terlena bermakmum.  Pilihan surat Al A’la dan An Nazi’at sangat pas walau mungkin terasa sangat panjang bagi jama’ah yang kurang ikhlas.
Ya, bagi beberapa orang yang tidak bersyukur; kondisi hujan besar, tampias karena tak berdinding, tikar di atas jalan yang basah, ketakutan banjir; telah mengkerdilkan hatinya untuk dapat menerima ceramah yang sangat baik dan kesempatan shalat khusyu yang dipimpin imam yang ikhlas.  Bahkan di perjalanan pulang, saya mendengar seorang jamaah yang menggerutu, bahwa imamnya terlalu lama berkhutbah sehingga air hujan semakin banyak yang tampias dan membasahi tikar.  Apalagi saat sholat, surat yang dibacanya panjang-panjang dan membacanya pelan sekali, jadi celananya basah.
Sahabat-sahabat pembaca blog yang baik,
Menurut ilmu pengetahuan alam, bagian terbesar tubuh manusia terdiri atas air, hingga mencapai 80 persen.  Dengan demikian, sebenarnya manusia lebih pantas disebut sebagai makhluk air.
Tapi mengapa, air takut air?
……
Sahabat yang budiman,
Sebagai oleh-oleh, ada satu kalimat yang demikian bernilainya, sehingga saya tidak mampu menyimpannya untuk saya sendiri (telah saya simpan di HP sebagai draft sms).  Kalimat ini disampaikan oleh khatib Jum’at yang mulia itu, yaitu :
Pada semua campuran, kebaikan selalu dirugikan dan keburukan selalu diuntungkan
Kalimat tersebut dilisankan menyambut kalam suci, walaa talbisul haqqa bil bathil.
Benar dan sangat benar sekali.
Ustadz tersebut mengilustrasikan dengan jenaka pada secangkir bandrek tercampur dengan setitik kotoran kucing.  Campuran yang didominasi bandrek tersebut, tidak lagi dikategorikan sebagai bandrek yang etis diminum, melainkan berubah status menjadi barang najis – sederajat dengan kotoran kucing.  Kebaikan hanya disebut kebaikan, jika tidak terkotori sedikitpun oleh keburukan.  Sementara keburukan, tetaplah sebuah keburukan walau telah ditempelkan kepadanya banyak kebaikan. Campuran kebaikan dan keburukan bukan lagi kebaikan yang dimaafkan, melainkan keburukan.
Kita tidak bisa disebut beriman, jika mengimani Allah Swt dan juga mengimani makhluk sebagai tuhan.  Hanya dengan melepaskan semua ke-syirik-an, kita akan memasuki keimanan.  Hanya dengan kaffah kita berhak menyandang status mulia muslim. Mencampur-adukkan Islam dengan ghair Islam adalah berarti ghair Islam.  Itu-lah mengapa, seorang ulama menggambarkan betapa antara kafir dan mu’min seperti letak saluran kotoran dan saluran susu pada sapi.  Begitu dekat, hanya dipisahkan oleh dinding yang sangat tipis, namun PASTI tidak tercampur.
Ustadz yang dirahmati Allah Swt.  Terima kasih yang sangat dalam atas pengertian yang cerdas dan benar.
Sahabat-sahabat pembaca blog yang baik,
Semoga sudut pandang sederhana ini dapat menemani khasanah sudut pandang Anda.

Entri Lebih Baru »