Mana Tangan Kanan-mu…

Dalam sebuah pelatihan sehari Mind Mapping untuk pelajar SLTP-SLTA, saya meminta peserta untuk mengangkat tangan kanan mereka.  Pada awalnya, beberapa anak kelihatan ragu-ragu mengangkat tangannya.  Tetapi setelah diminta dua kali, mereka dengan penuh semangat mengangkat tangannya tanpa ragu.

 

Amazing! Tidak ada satu pun yang berbeda. Mereka mengangkat tangan pada sisi yang sama.  Cuma sayangnya, dalam pandangan mata saya, kok tangan yang sebelah kiri yang diangkat? Mengapa mereka kompak untuk berbeda dengan pandangan saya?

 

……

 

Manusia adalah makhluk yang melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya sebagai subyek, dan kemudian menyebut pandangannya sebagai obyektif (Mario Teguh, 2007).

 

…….

 

Bagi saya, fenomena mengangkat tangan pada pelatihan tersebut, memiliki pelajaran yang sangat penting.  Ini merupakan bukti proses pembelajaran kehidupan yang paling efektif dan bijak.

 

Ketika saya mengajarkan tentang sisi kanan-kiri pada putra terkecil kami yang berusia 2 tahun, kami menggunakan media kedua tangannya.  Kami berkali-kali melatih dia untuk mengenali sisi yang sama untuk disebut kanan atau kiri.  Kami sadar bahwa pengenalan dan kesadaran akan adanya orientasi arah, sangat penting.  Banyak hal dalam kehidupan ini, memerlukan orientasi arah geografi dasar kanan-kiri.  Selain berguna dalam perjalanan fisik di jalan raya, jalan-jalan kehidupan banyak yang terkait dengan orientasi arah kanan-kiri.  Misalnya anjuran mulia untuk mengelompokkan hal-hal bercitra positif dengan sisi kanan (makan, minum, melangkah ke dalam masjid dll). 

 

Kita tidak memiliki alasan yang mudah diterima akal sehat, mengapa anjuran mulia itu memilihkan kanan untuk citra positif dan kiri untuk hal sebaliknya. Kami dengar, kami taat dan kami yakin sebagai pilihan terbaik bagi kemanusiaan.  That is all…

 

Tapi, tahukah kita, bahwa keberhasilan pembelajaran tentang kanan-kiri sangat ditentukan oleh kerelaan, kesediaan, keberserahan, keikhlasan, penerimaan tanpa syarat dari anak kita?  Seandainya saja putra kami ‘tidak tunduk’ pada aksioma kami, maka putra kami akan mengalami dis-orientasi arah yang berpotensi menyulitkan kehidupannya nanti.

 

Jangan pernah menolak pembelajaran hanya karena belum mengerti alasannya.

 

……….

 

Saat seluruh peserta mengangkat tangannya, dalam pandangan saya yang diangkat adalah tangan bagian kiri mereka, padahal saya meminta mereka untuk mengangkat tangan bagian kanan. Mengapa? Karena arah pandangan saya berlawanan dengan arah pandangan peserta.

 

Dalam pergaulan yang saling memperhatikan, kita tidak akan dapat menghindarkan diri dari keniscayaan untuk berlawanan arah pandangan.  Adalah upaya yang sia-sia, jika kita bersikukuh, hanya berpedomankan pada arah pandangan sendiri.  Kecuali Anda sedang berbaris bersama lawan bicara Anda, maka pandangan Anda tidak akan pernah searah dengan lawan bicara Anda.

ATAU, jika posisi berdiri Anda saat ini adalah sangat penting, maka ketulusan Anda untuk menerima dan menggunakan arah pandangan lawan bicara Anda, adalah syarat tercapainya kesepahaman pengertian bersama yang bijak.  Apa jadinya jika saya, pada pelatihan itu, bersikukuh dengan pandangan mata saya?

 

Kesediaan yang tulus menerima sudut pandang lawan bicara, adalah syarat utama tercapainya pengertian bersama.

 

Kalaupun Anda sangat berkepentingan atas kebaikan sudut pandang Anda diterima, maka saya menyarankan agar Anda memilih strategi diterima dahulu, yaitu dengan beralih posisi sementara.  Ketika Anda telah diterima, Anda akan dapat bersama-sama mengalihkan pandangan.

 

………

 

Sahabat-sahabat pembaca blog yang budiman,

 

Saya sering sekali menyaksikan dalam postingan milist, perdebatan tak berujung, saling melukai, kasar, menghakimi, menuduh, memvonis; yang semuanya berakar pada kesalah-mengertian mengenai posisi arah pandang masing-masing.

 

Mengapa Anda demikian angkuh, tidak bersedia dengan tulus menerima keniscayaan arah pandangan yang berlawanan dengan Anda?

Mengapa Anda demikian memaksa, agar seluruh lawan bicara Anda berarah pandangan yang sama dengan Anda?

Mengapa Anda demikian bangga dengan kesendirian Anda,  padahal hanya kebersamaan yang telah terbukti mampu menorehkan budaya cemerlang?

 

Pengalaman terindah kehidupan adalah ketika kita dengan tulus menyadari bahwa kita harus mengubah arah pandangan karena telah penuhnya pengertian akan keharusan untuk berubah ke arah lebih baik.

 

 

Terima kasih atas kebersamaan yang penuh rona.

 

Wassalam

 

Syarif Niskala

Sudut pandang nyamuk

Menilai orang lain adalah keniscayaan. Setiap saat, serta untuk berbagai kepentingan, kita selalu menilai orang. Larangan atau himbauan untuk tidak menilai orang lain, selain tidak berguna, juga melepaskan diri dari keniscayaan kehidupan. Mungkin yang seharusnya kita hindari adalah merendahkan orang lain. Dan seperti dengan mudah kita amati, menilai tidak sama dengan merendahkan. Menyampaikan hasil penilaian buruk atas sebuah pribadi dengan santun dan penuh kasih sayang, bisa jadi merupakan sebaik-baiknya nasihat.

Kita memilih telur dari kulitnya; seperti kita memilih orang - dari yang bisa kita saksikan. Maka berhati-hatilah dengan penampilan Anda. Dunia ini tidak memiliki cara lain yang lebih cepat dalam membangun penilaian terhadap dan mengenai Anda, kecuali melalui yang dapat mereka lihat dari luar (Mario Teguh).

….

Tiga hari terakhir ini, saya pulang-pergi kerja menggunakan jasa angkutan umum. Ternyata begitu banyak pelajaran selama 3 x 2 x 120 menit perjalanan menempuh jarak 3 x 2 x 35 km. Salah satunya, saya kisahkan untuk kita semua, berikut ini.

Dalam pergaulan di jalan, saya menyaksikan dari jarak yang dekat, ada sebuah pribadi dengan gambaran seperti ini. Mukanya lusuh, kuyu dan kotor; hampir tidak berhenti menghisap rokok di tengah kepengapan metro mini; badannya bau; pakaiannya kotor dan merupakan seragam tidur; jari tangan kanannya kerempeng (seperti pernah terkena lepra); bicaranya kasar merendahkan orang lain; umpatannya hina dan kotor; menerobos lampu merah; memotong jalur kendaraan lain seenaknya; memakai sendal jepit; mukanya (maaf) jelek; rambutnya kotor; kumisnya panjang tidak teratur; membuang gelas plastik bekas minumnya di jalan raya; meludah di ruang kemudi; menghardik polisi. Dia adalah seorang supir metro mini.

Saya telah meminta beberapa kawan dekat untuk menilai pribadi ini, sisi baik apa yang dapat dinisbahkan kepada supir malang ini? Dari 4 orang kawan yang diminta pendapatnya, tidak ada yang mampu mengungkapkan sudut pandang sisi baik dari sang supir! Saya dan juga kawan-kawan merasa bahwa ongkos Rp. 3000 yang dibayarkan, telah membayar lunas peran dia mengantarkan kami ke tempat tujuan. Yang tersisa hanyalah rasa penyesalan, mengapa ‘apes’ naik metromini yang dikemudikan dia?
Mengapa ada sebuah pribadi yang sangat tidak menghormati (apatah mensyukuri) dirinya sendiri serta orang lain?

……

Sebenarnya, kita memiliki teknik sudut pandang yang mumpuni, untuk melihat sisi baik sesuatu yang buruk. Keyakinan pada wahyu bahwa tidak ada yang diciptakan sia-sia (sepenuhnya buruk), adalah latar belakangnya. Teknik ini populer dikenal sebagai sudut pandang nyamuk!
Dalam kegelisahan atas serangan nyamuk, kita senantiasa dapat melihat sisi baiknya yaitu : sangat banyak pribadi yang hajat hidupnya bergantung pada industri pengusir dan pembunuh nyamuk (teknik bakar, teknik semprot, teknik fogging, lotion, teknik penguapan elektrik dll). Belum lagi jaringan distrbusi dan penjualannya, penanganan sakit akibat nyamuk (poliklinik, rumah sakit dll) dan pemimpin atau lembaga yang menangani bidang kesehatan masyarakat.
Dengan teknik sudut pandang nyamuk ini, saya berhasil menemukan sisi baik sang supir. Eureka!

……

Sebuah koin pasti terdiri dari dua sisi. Menghilangkan salah satunya berarti pula menghilangkan koin tersebut. Seperti malam dan siang, meniadakan malam harus dengan menambahkan sebuah matahari yang sama pada posisi yang berseberangan. Dan bagi manusia, ini adalah hal yang mustahil - tidak mungkin. Meniadakan matahari, jauh lebih musykil karena akan membunuh kehidupan itu sendiri.

Jika kita, Anda dan saya, telah memilih kebaikan sebagai pilihan sisi kehidupan; maka siapakah yang telah berkenan memilih sisi kehidupan pasangannya, yaitu keburukan? Benar sekali! Sang supir beserta rekan-rekannya!
Memang tidak logis pilihan mereka, jika yang dipakai adalah sudut pandang kita. Mungkin pula, mereka memandang pilihan-pilihan kita tidak logis pula. Who knows!

Sekarang kita menemukan alasan yang paling hakiki, mengapa kita harus tetap hormat dan berkasih sayang kepada supir metromini dan rekan-rekannya itu. Karena tanpa mereka, kita tidak ada. Tanpa keburukan, kebaikan tidak ada. Tanpa pengikut keburukan, tidak ada pengikut kebaikan. Tanpa kualitas hina, tidak akan pernah ada kualitas mulia.
Jika keberadaan (eksistensi) manusia adalah rahmat terbesar dari Allah Swt, maka keberadaan mereka pada sisi keburukan adalah hal terbaik yang mereka sumbangkan bagi kita pada sisi kebaikan.

Untuk itu, saya mengundang diri saya dan Anda untuk :
Memberikan hormat terbaik kita pada mereka.
Senantiasa berkasih sayang pada mereka.
Menaruh harapan baik, bahwa siapa tahu mereka (atau keturunannya) akan merubah pilihannya
Memohonkan pada Allah Swt, semoga mereka mendapat petunjuk.
Senantiasa berupaya keras untuk tidak mengikuti pilihan-pilihan buruk mereka.

lilin kehidupan

Sahabat-sahabat pembaca blog yang budiman,
Banyak musisi, calon musisi, penyair, calon penyair, esais atau calon esais, blogger atau pembaca blog; yang terinspirasi oleh sebuah lilin.  Tulisan dan ekpresi beraneka ragam dan akan senantiasa tetap beragam seiring dengan banyaknya sudut pandang yang diambil.  Lilin, benda kecil dan berfungsi sementara jika hal primer (aliran listrik atau lampu petromak) tidak ada, adalah sebuah benda yang sering kali dikerdilkan karena peran pengganti minimalis dan bercahaya seadanya.
Sebenarnya, kehidupan sebuah pribadi tidak berbeda jauh dengan peran lilin.  Hidup sebentar, menerangi sekitarnya, kemudian mati.  Lilin yang dibakar itu adalah kehidupan dunia yang jatah usianya dibakar hari demi hari, jam demi jam, detik demi detik; sampai habis di saat kematian datang.  Tidak ada yang nampak tersisa, selain asap, panas dan cahaya yang kemudian hilang dalam sekejap.
Kehidupan boleh berakhir, tapi tidak dengan kebaikan kita.
Seperti halnya para Nabi, Rasul, ulama shaleh, pribadi yang besar, pemimpin yang adil, orang tua yang tulus; kebaikan mereka tidak terkubur bersama jasadnya yang dikafani.  Bahkan kemuliaan dan manfaat kehadirannya makin besar dan besar, seiring dengan kesadaran manusia pada kebaikan.
Sebuah lilin, walau membakar dirinya, tetap dapat menerangi asalkan membagikan apinya.
Sesaat setelah memiliki api, bersegeralah berbagi api dengan lilin lainnya.  Bersegeralah membagi api dengan lilin yang baru akan dinyalakan.  Berbagilah api dengan lilin yang padam tertiup badai.
Sahabat-sahabat, api sebuah lilin tidak akan pernah padam jika tidak penah berhenti membagikan apinya.  Dan nama kita tidak akan pernah benar-benar terkubur bersama tanah, jika setiap waktu dalam irisan perjalanan hidup kita adalah hanya berisi berbagi kebaikan.  Bahkan jika hal-hal baik yang kecil dan berulang itu dilakukan dengan ketulusan dan strategi yang baik, akan mampu menerangi sebuah stadion olah raga yang besar dalam waktu yang berabad-abad.
Sebuah lilin yang membakar dirinya kemudian habis, tetap sebuah kualitas yang baik, walau hanya untuk dirinya.
Tetapi hal yang besar dalam kehidupan adalah sebatang lilin yang mampu menerangi perjalanan hidupnya sendiri, kemudian juga menjadi sumber penerang bagi ribuan pribadi lain dalam rentang waktu yang panjang.  Ini lah pribadi yang besar.
Sahabat-sahabat, berbagilah saat bisa berbagi kebaikan.  Nyalakan lilin lain saat api-mu masih menyala.
Jadilah lilin yang menyalakan lilin lainnya.
Terima kasih atas kesediaan menerima tulisan sederhana ini.