Garis perbedaan

Semua perbedaan dibatasi oleh garis tipis yang memisahkannya.

 

 Hanya yang mampu melihat garis tipis itu dengan jelas, yang mampu bersikap bijak. Sayangnya kebanyakan pribadi, tidak cukup jelas melihat garis itu.

Semua garis pembeda, selalu tipis. Bukankah perbedaan antara satu bangsa dengan bangsa lain hanyalah setebal garis perbatasan yang melingkari keduanya.

Garis pembeda yang ditetapkan oleh manusia, selalu berubah sesuai dengan kepentingan yang mendominasinya. Kita telah menyaksikan bahwa banyak garis yang ditetapkan di masa lalu, kemudian dihapuskan masa kini. Garis tembok Berlin telah diratakan. Garis apartheid telah dihapuskan. Garis aurat ramai akan dihapuskan di Indonesia, dan telah lama tiada di kafilah barat. Konon katanya garis agama, akan dihapuskan oleh kaum liberalis-pluralis?

Kita juga menyaksikan telah banyak dibuat garis baru. Tembok pemisah di Palestina. Garis HAM didewakan. Garis demokrasi dijadikan model wajib. Garis teroris sedang dibentangkan. Mungkin diruangan kedap suara dan terisolasi, garis-garis baru sedang dirancang.

Tapi ada garis yang abadi, yaitu garis yang memisahkan benar (haq) dengan dusta (bathil).

Kebenaran hanya bersumber dari Yang Maha Benar, sementara kedustaan bisa datang dari mana pun. Yaitu bisa datang dari seorang pemikir yang kecanduan filsafat hingga gelengan dukun di lereng gunung.

Kebenaran hanya datang melalui cara-cara yang benar, terpuji, santun, tulus, ikhlas atau mulia.

Bagaimana mungkin kebenaran disampaikan dengan cara-cara dusta!

Tapi mohon untuk berhati-hati, kedustaan dapat saja menggunakan topeng atau simbol-simbol kebenaran.

Hanya orang yang rabun yang tidak dapat melihat sebuah garis dengan jelas. Semakin rabun, semakin hablur garis batas setiap benda. Kemudian kebutaan-lah yang menghilangkan garis itu seutuhnya dari pandangannya.

 

 Jika semua upaya melihat dunia ini, tidak menjadikan kita lebih jelas melihat garis terang antara benar dengan dusta, maka dapat dipastikan kita sedang menuju kebutaan yang hakiki. Tanda-tandanya adalah jika Anda rabun terhadap garis antara Pencipta dengan yang Diciptakan, atau jika garis pembeda antara nyata dan tiada semakin hilang. Biasanya kebutaan didahului oleh keangkuhan akan perasaan superioritas dalam berfilsafat.

Tangan terkepal

Sahabat-sahabat pembaca blog yang budiman,

Semoga tulisan ini menjumpai sahabat dalam kesehatan yang prima, kebahagiaan yang merona dan rasa syukur yang dalam.

Di bawah adalah sebuah sudut pandang singkat dan sederhana, yang semoga bermanfaat.

 

———-

 

Apa yang dapat kita lakukan dengan tangan terkepal?

 

- Meneriakkan yel-yel yang bersemangat

- Memukul (benda, angin atau orang)

- Olah raga adu panco

- Olah raga yang sejenis dengan tinju

- Mengancam orang

- Meluapkan emosi pada momentum kemenangan (olah raga, ujian, wawancara, tender, tuntas pekerjaan dll)

 

Apa yang dapat Anda lakukan dengan tangan terbuka?

- Berdoa

- Meminta

- Menjelaskan

- Bersalaman

- Menuntun (anak belajar jalan, jompo menyeberang jalan dll)

- Memegang

- Tepuk tangan

- Melambai

- Membelai rambut istri atau anak

- Memijit suami atau istri

- Menghormat

- ….

 

Saya, mampu menuliskan kegunaan tangan terbuka lebih dari 100 buah.  Tapi, untuk menemukan 6 saja kegunaan tangan terkepal, saya telah memeras pikiran.  Bagaimana dengan Anda?

 

—-

 

Jika tangan Anda sedang terkepal, Anda akan kesulitan untuk memberi, kecuali memberikan pukulan - pada olah raga tinju misalnya.  Pada saat ini, Anda sedang fokus pada apa yang Anda rasakan, sehingga relatif tidak siap untuk memberi ataupun menerima. Terkait euphoria EURO 2008, bahkan pada tangan terkepal saat perayaan mencetak gol, Podolski tidak terlalu memperdulikan pelukan, rangkulan, pujian atau ucapan terima kasih dari sesamanya.

 

Mungkin, pada hampir keseluruhan aktivitas dengan tangan terkepal; semua pribadi sedang tenggelam dalam emosi ke-aku-annya.

Jujur saja, tidak banyak hal yang dapat kita lakukan, jika kita sangat sibuk dengan ke-aku-an kita.  Dunia modern yang dicirikan dengan networking, korporasi, koordinasi, negosiasi, koperasi; menuntut kita untuk selalu mempertimbangkan dengan cermat aspek di luar kita, bukan ke-aku-an kita.  Tidak akan ada negosiasi yang menyenangkan banyak pihak, jika perasaan atau kepentingan kita tidak bisa dikompromikan.

 

So, sebagian besar kehidupan ini ternyata memerlukan : tangan terbuka!

 

Tetapi mohon Anda merenungkan lebih dalam bahwa, tangan terbuka tidak lebih mendamaikan kehidupan dibandingkan dengan hati terbuka.  Kemudian, Anda akan menemukan bahwa kehidupan ini, lebih membutuhkan hati terbuka Anda lebih banyak dibandingkan tangan terbuka Anda.

 

Bagaimana dengan kelapangan pada hidup ini?

Karena luas dan dalamnya hati itu tak terbatasi oleh ukuran dimensi fisik, maka Anda akan terheran-heran dengan keajaiban indahnya kehidupan pada pribadi dengan hati yang terbuka.  Mohon untuk Anda sadari, sesungguhnya hati yang dirasa sempit itu, bukan karena luasan hati yang sempit, melainkan Anda (atau Yang Maha Kuasa) menutupkan sesuatu pada pintunya.

 

……..

 

Anda tidak mungkin bersalaman dengan tangan terkepal (Indira Gandhi).

 

Bersalaman, apapun juga tujuannya (bermaafan, bekerja sama, melepas kerinduan dll), seyogyanya merupakan perpaduan manis antara tangan terbuka dan hati terbuka.  Kehadiran salah satunya, tidak akan mendatangkan manfaat yang optimal.  Anda tidak bisa memaafkan seseorang dengan tangan yang terbuka saja. Juga Anda tidak bisa mendatangkan kebaikan yang banyak, jika Anda sibuk memaafkan orang lain tanpa mau mengulurkan tangan terbuka Anda untuk bersalaman.  Orang lain, tetap saja membutuhkan tangan terbuka Anda.

 

Tapi mohon Anda tidak lekas curiga.  Tetaplah menyambut uluran tangan terbuka bagi sebuah harapan persahabatan yang tulus.  Karena harapan yang baik, akan menaburi hati-hati yang terkuncupkan - untuk merekah dengan perlahan pada saat musimnya tiba.

 

Anjuran terbaiknya adalah : ulurkan tangan terbuka sebagai tanda terbukanya hati Anda, pada siapa pun.

 

………

 

Terima kasih yang dalam atas kesediaan menerima sudut pandang di atas.


Selamat menikmati jamuan akhir pekan terindah dari Yang Maha Penyayang.Wassalam

Syarif Niskala

 
 

 

 

Lebih baik penakut daripada peragu

Ragu adalah lawan (atau pasangan) dari tegas. Peragu adalah pribadi yang penuh keraguan. Pribadi yang penuh ketegasan biasanya adalah pemimpin yang besar, yang pada tahap awal, paling tidak besar untuk dirinya sendiri.

Sifat peragu dimiliki para pecundang, sedangkan sifat ketegasan dimiliki oleh para pemenang.

Takut adalah lawan (atau pasangan) dari berani. Pada banyak keutamaan hidup, sifat berani menjadi pemungkin yang paling besar.

Keberadaan kedua sifat tersebut dalam sebuah pribadi adalah keniscayaan. Dengan demikian, tingkat kemuliaan dan ukuran kehidupan seseorang, sangat tergantung pada sejauh mana dominasi salah satunya.

Jika kita harus memilihkan sifat-sifat di atas sebagai pakaian pribadi kita, maka hindari-lah sifat peragu. Bahkan seorang penakut, nasibnya akan lebih baik daripada seorang peragu.

Mengapa?

Pada saat berhadapan dengan anjing galak dan besar, seorang penakut akan dengan tegas mengambil keputusan untuk berlari sekencang-kencangnya. Sedangkan sang peragu, mungkin nasibnya tidak akan lebih baik dari sang penakut.

Pada kehidupan ini, banyak sekali hal-hal menakutkan seperti anjing galak dan besar. Pada kehidupan ini, akan ada saat-saat (waktu dan tempat) bertemunya kita dengan anjing itu. Pada momentum itu-lah, ketegasan menentukan keberhasilan kita.

Saat ini kita sedang menghadapi kenaikan harga-harga yang menakutkan.

Saat ini kita sedang menghadapi bahaya laten keimanan yang kuat-ulet-licin.

Jika Anda tidak dapat menjadi perwira yang pemberani, jadilah penakut yang tegas.

Wassalam,

Syarif Niskala

 

« Tulisan sebelumnya