Basmalah

Bagi seorang muslim pemula, tulisan basmalah dapat dipersepsi sebagai sebuah kesalahan. Ya, seharusnya bismillah. Dalam pengucapannya pun, tulisan basmalah menyalahi kaidah tajwid karena pelafalan kalimat Allah setelah huruf ba berfathah tidak boleh dilafalkan sebagai huruf a melainkan harus bunyi huruf o tebal. Jika pun kata basmalah merupakan hasil transliterasi, setidaknya huruf ll-nya harus ada dua!

Mungkin ini sedikit mencengangkan Anda. Ternyata kata basmalah tidak terdaftar pada Kamus Besar Bahasa Indonesia! Jadi dalam perbendaharaan kosakata resmi nasional, tidak ada kata basmalah! Yang ada malah kata bismillah.

Jadi, mari kita hentikan saja penggunaan kata basmalah ini.

Dalam sistem makanan halal, kata bismillah memiliki peran yang sakral dan vital. Seonggok daging sapi sehat dapat menjadi sampah jika saat penyembelihannya, sang penyembelih tidak mengucapkan kata bismillah. Bagaimana mungkin dapat dimengerti dengan mudah oleh manusia ketika Allah Swt menciptakan suatu kata yang jika diucapkan dapat membuka tabir berjuta kebaikan secara fisika, kimia, biologi, psikologi, dan non-materi dalam seonggok daging?

Kalimat bismillah tidak hanya jadi password pembuka keberkahan langit dan bumi dalam sistem makanan halal. Kalimat bismillah juga menjadi password keberkahan dunia-akhirat dalam hampir seluruh aktivitas kebaikan. Tanpa bismillah, hampir seluruh aktivitas kebaikan akan menggantung statusnya hingga pengadilan akhirat memutuskan apakah akan dikelompokan pada kebaikan ataukah pada keburukan.

Fenomena password ini mirip posisi kalimat bismillah dalam setiap surah dalam Alquran. Hampir seluruh surah dalam Alquran dimulai dengan kalimat bismillah. Hampir seluruh aktivitas Nabi Muhammad saw dimulai dengan kalimat bismillah. Hanya surah At-Taubah saja yang tidak dimulai dengan kalimat bismillah. Hanya saat menulis surat perjanjian Hudaibiyah saja Nabi saw tidak memulainya dengan kalimat bismillah. Mungkin dalam hidup Anda, akan ditemukan suatu kejadian yang Anda diizinkan tidak memulainya dengan melibatkan kalimat bismillah.

Kehadiran kalimat bismillah secara verbal dalam setiap aktivitas kita akan menunjukkan seberapa dekat kita dengan kualitas akhlak terbaik.

Kehadiran getaran makna bismillah secara ruhani pada setiap aktivitas kita menunjukkan seberapa kuat jiwa kita bertautan dengan tali-Nya.

Tahukah Anda, kualitas kehidupan kita dimulai dari kualitas bismillah pada jiwa dan raga kita?

Balada uang Rp 1000 dan 100000

Balada uang 1000 dan 100000

Konon, uang seribu dan seratus ribu memiliki asal-usul yang sama tapi mengalami nasib yang berbeda. Keduanya sama-sama dicetak di PERURI dengan bahan dan alat-alat yang oke.

Pertama kali keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu sama-sama bagus, berkilau, bersih, harum dan menarik. Namun tiga bulan setelah keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu bertemu kembali di dompet seseorang dalam kondisi yang berbeda.

Uang seratus ribu berkata pada uang seribu :”Ya, ampyyyuunnnn. ……… darimana saja kamu, kawan? Baru tiga bulan kita berpisah, koq kamu udah lusuh banget? Kumal, kotor, lecet dan….. bau! Padahal waktu kita sama-sama keluar dari PERURI, kita sama-sama keren kan ….. Ada apa denganmu?”

Uang seribu menatap uang seratus ribu yang masih keren dengan perasaan nelangsa. Sambil mengenang perjalanannya, uang seribu berkata : “Ya, beginilah nasibku , kawan. Sejak kita keluar dari PERURI, hanya tiga hari saya berada di dompet yang bersih dan bagus. Hari berikutnya saya sudah pindah ke dompet tukang sayur yang kumal. Dari dompet tukang sayur, saya beralih ke kantong plastik tukang ayam. Plastiknya basah, penuh dengan darah dan kotoran ayam. Besoknya lagi, aku dilempar ke plastik seorang pengamen, dari pengamen sebentar aku nyaman di laci tukang warteg. Dari laci tukang warteg saya berpindah ke kantong tukang nasi uduk. Begitulah perjalananku dari hari ke hari. Itu makanya saya bau, kumal, lusuh, karena sering dilipat-lipat, digulung-gulung, diremas-remas. ……”

Uang seratus ribu mendengarkan dengan prihatin.: “Wah, sedih sekali perjalananmu, kawan! Berbeda sekali dengan pengalamanku. Kalau aku ya, sejak kita keluar dari PERURI itu, aku disimpan di dompet kulit yang bagus dan harum. Setelah itu aku pindah ke dompet seorang wanita cantik. Hmmm… dompetnya harum sekali. Setelah dari sana, aku lalu berpindah-pindah, kadang-kadang aku ada di hotel berbintang 5, masuk ke restoran mewah, ke showroom mobil mewah, di tempat arisan Ibu-ibu pejabat, dan di tas selebritis. Pokoknya aku selalu berada di tempat yang bagus. Jarang deh aku di tempat yang kamu ceritakan itu. Dan…… aku jarang lho ketemu sama teman-temanmu. “

Uang seribu terdiam sejenak. Dia menarik nafas lega, katanya : “Ya. Nasib kita memang berbeda. Kamu selalu berada di tempat yang nyaman. Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang dan bangga daripada kamu!”

“Apa itu?” uang seratus ribu penasaran.

“Aku sering bertemu teman-temanku di kotak-kotak amal di mesjid atau di tempat-tempat ibadah lain. Hampir setiap minggu aku mampir di tempat-tempat itu. Jarang banget tuh aku melihat kamu disana…..”

(Dikutip dari postingan anggota milist Tarbawi Community.  Kepada penulis yang sesungguhnya, mohon berkenan menambatkan nama mulia Anda.  Terima kasih)

Pemulung Dilarang Masuk!

Pemulung Dilarang Masuk!

Adalah sebuah kalimat yang paling sering saya jumpai di mulut-mulut gang, perumahan, dukuh atau kawasan padat penduduk di seputar Solo. Sebenarnya kalimat itu tidak terlalu asing – bagi saya sebagai pendatang baru, karena kalimat itu pun pernah menjadi wacana hangat dalam rapat pengurus RW di Bogor. Yang kemudian mengusik nurani adalah jumlahnya yang masif dan merata di hampir seluruh gang yang pernah saya masuki.

Ada apa dengan pemulung di Solo?

Kehilangan barang di halaman rumah sendiri, adalah kesan negatif pertama bermasyarakat setelah 15 hari keluarga tinggal di Karanganyar. Tapi saya tidak menemukan bukti dan alasan untuk berpretensi negatif terhadap pemulung – sebuah profesi mengais rezeki yang trendi di masa reformasi ini.

Dalam masa orde baru, kita sangat terbiasa dengan istilah oknum, yakni pelaku penyimpangan ekstrim kiri pada profesi tertentu. Ketika ditemukan fakta banyak pegawai negeri yang mangkir kerja, disebut oknum. Ketika beberapa pejabat bank tertangkap korupsi, disebut oknum. Ketika saat ini banyak ditemukan anggota dewan yang korupsi, kenapa istilah oknum tidak digunakan?

Ketika ada beberapa pemulung yang mengambil barang bukan dari tempat sampah, apakah juga bisa kita sebut oknum?

…..

Claudio Bertelli (UOP Sinco) dan Eliza Leung (editor Asia Food Journal) mengundang khalayak pembaca Asia Pasific untuk berterima kasih kepada para pemulung plastik PET (seperti bekas produk AMDK). Peran sinergi mereka telah menjawab banyak skeptisme tentang keunggulan utama PET sebagai bahan kemas – yakni dapat didaur ulang, terkait mekanisme collecting (pengumpulan). Dalam silang pendapat efektivitas PET terkait pengendalian pencemaran lingkungan, mekanisme collecting menjadi titik terlemah PET sebagai primadona baru bahan kemas masa depan. Hal ini menjadi fokus utama, terutama di negara-negara padat penduduk dengan tingkat budaya penanganan sampah yang rendah (India, China, Indonesia dll).

Tidak-kah kita sudah melihat, betapa bernilai tinggi, kontribusi pemulung pada green activities di Indonesia?

…..

Bankers, karyawan swasta, wirausahawan, PNS, konsultan, politisi, pejabat, dokter, guru atau pemulung; adalah profesi yang sah, legal, halal dan terhormat. Semuanya bernilai amat tinggi dan mulia jika dalam pelaksanaannya tidak terdistorsi oleh perilaku buruk. Ada pun adanya noktah noda para oknum pada semua profesi itu, seyogyanya tidak menjadi alasan dilakukannya upaya-upaya pencitraan buruk terhadap profesi apa pun, termasuk pemulung.

Karena menurut undang-undang, konvensi universal HAM dan nilai-nilai luhur agama, kalimat Pemulung Dilarang Masuk! adalah termasuk kalimat diskriminatif dan melukai perasaan.

Bukankah setiap warga negara Indonesia berhak untuk memasuki seluruh wilayah NKRI, apa pun profesinya.
Mohon untuk dipahami; pencuri, penodong, koruptor bukanlah sebuah profesi, melainkan perilaku buruk dan keburukan. Dan keburukan senantiasa memiliki kemampuan untuk menempel pada profesi apa pun.

Sahabat pembaca blog yang budiman, terima kasih atas kesediaan menyimak sudut pandang di atas.

« Older entries